Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #3

Bakso, Hujan, dan Halte

Langit di atas sekolah kami seolah-olah baru saja menumpahkan tinta biru tua yang pekat ke seluruh penjuru cakrawala. Bel pulang sekolah baru saja berdentang lima menit yang lalu, namun suasana di koridor sudah seperti medan perang. Ratusan siswa berlarian dengan tas di atas kepala, mencoba menerobos rintik hujan yang turun dengan kecepatan yang menghukum bumi.

Aku berdiri di ambang pintu kelas, menatap tirai air yang membatasi pandanganku ke lapangan basket yang kini tergenang. Bau tanah basah—petrichor—merayap masuk ke hidungku, membawa serta ingatan-ingatan lama yang biasanya ingin kukubur. Hujan selalu membuatku merasa kecil, seolah-olah dunia sedang berusaha mencuci keberadaanku dari peta kehidupan.

Namun, sore ini ada yang berbeda. Aku tidak merasa ingin segera menghilang.

"Masih menunggu hujan biru mudamu?"

Suara itu muncul tepat di samping telingaku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma sampo bunga yang ringan itu sudah menjadi GPS alami bagi indraku. Maura berdiri di sana, menyandarkan bahunya di kusen pintu kayu yang sudah mengelupas catnya. Ia mengenakan cardigan putih andalannya, tangannya masuk ke dalam saku, sementara matanya menatap hujan dengan binar yang tidak pernah redup.

"Kamu benar," kataku sambil tersenyum tipis. "Hari ini warnanya benar-benar biru muda. Bukan abu-abu seperti yang dibilang anak-anak kelas sebelah."

Maura tertawa pelan, lalu melompat kecil keluar dari teras kelas, membiarkan beberapa tetes air menghujani rambut panjangnya. "Ayo, Adit! Kalau kita hanya diam di sini, kita akan melewatkan bagian terbaik dari sore ini."

Aku ragu sejenak, menatap sepatuku yang mulai usang, lalu menatap Maura yang sudah melambai dari kejauhan lorong. Akhirnya, aku berlari menyusulnya. Kami menembus hujan menuju halte depan sekolah, tempat di mana biasanya bus-bus kota yang penuh sesak menjadi saksi bisu kelelahan para pelajar.

Halte itu sepi saat kami tiba. Hanya ada kami berdua di bawah atap seng yang berbunyi gaduh setiap kali butiran air menghantam permukaannya. Maura duduk di bangku beton yang dingin, menggoyangkan kakinya yang dibalut kaus kaki putih.

"Maura, kamu sebenarnya tinggal di mana?" tanyaku, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa canggung di antara suara hujan. Aku menyadari satu hal: aku hampir tidak tahu apa pun tentangnya.

Ia menoleh, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyumnya masih ada, tapi ada gurat ambigitas di sana. "Di suatu tempat di mana hujan selalu terasa biru, Adit. Jauh, tapi juga sangat dekat."

"Maksudnya?"

Ia hanya tertawa, mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk ke seberang jalan. "Lihat! Gerobak Pak kumis masih buka. Aku lapar. Kamu lapar tidak?"

Lihat selengkapnya