Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #4

Nama yang Diukir di Meja

Siang itu, kantin SMA sedang berada di titik nadir keramaiannya. Sebagian besar siswa sudah kembali ke kelas untuk pelajaran jam terakhir, menyisakan deretan meja panjang yang kosong dan aroma sisa gorengan yang mengendap di udara panas. Aku memilih duduk di meja paling pojok, tempat yang jarang tersentuh oleh hiruk-pikuk siswa populer. Di depanku, Maura duduk dengan anggun, mengenakan cardigan putihnya yang tampak tidak terpengaruh oleh gerahnya cuaca Jawa Barat.

Aku mengeluarkan sebuah jangka dari saku seragamku. Ujungnya yang tajam berkilau terpapar cahaya matahari yang menerobos lewat celah ventilasi. Tanganku sedikit gemetar saat mulai menempelkan ujung logam itu ke permukaan meja kayu yang sudah mulai kusam dan penuh coretan tipis.

"Kamu mau melakukan apa, Adit?" tanya Maura pelan. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya yang berbinar memperhatikanku dengan rasa ingin tahu yang murni.

"Membuat sesuatu yang permanen," jawabku tanpa mendongak. "Di dunia yang semuanya terasa bisa hilang dalam sekejap, aku ingin ada satu bukti bahwa kita pernah duduk di sini. Berdua."

Aku mulai menggoreskan ujung jangka itu ke kayu. Sret... sret... Bunyi kayu yang terkoyak secara paksa itu menciptakan sensasi ngilu yang aneh di telingaku, namun ada kepuasan yang mengikutinya. Aku mulai membentuk huruf A, lalu D, I, dan T. Di sampingnya, aku mengukir tanda plus yang sederhana, lalu mulai mengukir nama yang selalu bergema di kepalaku belakangan ini: M-A-U-R-A.

Maura memperhatikan setiap gerakan tanganku tanpa berkedip. Saat aku hampir menyelesaikan huruf terakhir, aku menyadari matanya mulai berkaca-kaca. Ada rona merah yang sangat tipis di pipinya, membuatnya tampak jauh lebih manusiawi daripada biasanya.

"Kenapa menangis?" tanyaku, meletakkan jangka itu sejenak.

Maura mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, sebuah gerakan yang sangat halus. "Tidak apa-apa. Hanya saja... aku merasa senang. Selama ini, aku merasa seperti embun yang akan hilang kalau matahari terlalu terik. Tapi melihat namaku ada di sana, di samping namamu... aku merasa seolah aku benar-benar punya tempat di dunia ini."

Ia terdiam sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencoba memotret seluruh wajahku ke dalam ingatannya. "Kalau suatu hari aku lupa, kamu akan tetap ingat, kan, Adit?" bisiknya.

Lihat selengkapnya