Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #5

Foto yang Tidak Ada di Album

Rumahku selalu terasa seperti sebuah kotak musik yang kehabisan putaran. Hening, berdebu di sudut-sudut yang jarang tersentuh, dan dipenuhi oleh gema dari suara-suara yang kini hanya tinggal kenangan. Sejak Ibu pergi, Ayah lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dasar tempatnya mengajar, meninggalkan aku sendirian dengan lukisan-lukisan yang tidak pernah selesai dan rasa sepi yang merambat di dinding ruang tamu.

Namun, sore ini berbeda. Untuk pertama kalinya, aku membawa "kehidupan" masuk ke dalam rumah ini.

"Maaf ya, rumahnya agak berantakan," ucapku sambil membuka pintu depan yang berderit.

Maura melangkah masuk dengan anggun. Cardigan putihnya tampak kontras dengan warna cat tembok rumahku yang mulai menguning. Ia tidak langsung duduk. Ia berjalan mengelilingi ruang tamu, menyentuh pinggiran lemari kayu, dan berhenti di depan sebuah rak buku tua. Matanya yang berbinar menatap deretan bingkai foto di sana.

"Ini rumah yang hangat, Adit," bisiknya. Suaranya terdengar seperti angin sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela.

Aku tersenyum tipis. "Hangat kalau ada orangnya. Biasanya cuma ada aku dan Ayah yang jarang bicara."

Aku mengajak Maura duduk di sofa beludru cokelat. Di bawah meja tamu, aku merogoh sebuah album foto besar bersampul kulit yang sudah mulai terkelupas. Album ini adalah artefak paling berharga sekaligus paling menyakitkan yang kami miliki. Ayah jarang membukanya lagi karena setiap lembarannya seolah-olah membuka luka yang belum kering.

"Mau lihat?" tanyaku.

Maura mengangguk antusias. Ia menggeser duduknya, merapat ke sampingku hingga aku bisa mencium aroma sampo bunga yang menenangkan dari rambutnya. Kehadirannya begitu solid di sampingku, begitu nyata hingga aku bisa merasakan kehangatan yang memancar dari lengannya yang bersentuhan dengan lenganku.

Lihat selengkapnya