Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #6

Malam di Atap Sekolah

Sekolah di malam hari adalah sebuah organisme yang berbeda. Jika di siang hari ia adalah raksasa yang berisik dan penuh tuntutan, maka di malam hari, SMA Negeri berubah menjadi labirin beton yang sunyi, diselimuti oleh bayang-bayang panjang yang seolah-olah memiliki napas sendiri. Aku melangkahi pagar belakang dengan gerakan yang sudah kulatih dalam kepala berkali-kali. Tidak ada penjaga sekolah yang terlihat; hanya lampu merkuri kekuningan yang berkedip di kejauhan, menciptakan suasana meditatif yang liris.

Aku tidak sendirian. Di sampingku, Maura berjalan dengan langkah yang nyaris tidak menimbulkan suara di atas aspal. Cardigan putihnya seolah-olah berpendar di bawah cahaya bulan, membuatnya tampak seperti satu-satunya titik terang di tengah kegelapan yang pekat ini.

"Kamu yakin kita tidak akan tertangkap, Adit?" bisiknya. Suaranya adalah melodi yang membelah keheningan malam, jauh lebih jernih daripada saat kami berada di tengah riuh kantin.

"Percayalah padaku. Aku tahu jalan pintas menuju atap," jawabku sambil menggenggam tangannya. Tangannya terasa dingin, sebuah sensasi yang seringkali membuatku bertanya-tanya, namun aku selalu menepis logika itu dengan rasa syukur karena ia masih di sini, memilih untuk tetap tinggal bersamaku.

Kami menaiki tangga darurat di samping aula seni. Setiap anak tangga besi yang kami pijak mengeluarkan bunyi berdentang yang bergema di lorong-lorong kosong, namun aku tidak takut. Bersama Maura, ketakutan adalah konsep asing. Bagiku, sekolah ini bukan lagi tempat yang mengingatkanku pada kursi kosong Rian atau tatapan kasihan para guru; malam ini, sekolah ini adalah istana milik kami berdua.

Saat kami sampai di atap, angin malam Jawa Barat langsung menyergap, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa polusi kota yang entah kenapa terasa menyegarkan. Dari sini, pemandangan kota terbentang luas. Lampu-lampu kendaraan di jalan raya tampak seperti aliran lava emas yang bergerak lambat, dan gedung-gedung tinggi di kejauhan berdiri seperti penjaga cakrawala.

Maura berjalan menuju tepian atap, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seolah-olah ingin memeluk seluruh lampu kota itu. Rambut panjangnya tertiup angin, menutupi sebagian wajahnya yang selalu tampak ceria.

"Indah sekali, kan?" tanyanya tanpa menoleh.

"Tidak seindah orang yang sedang melihatnya," jawabku, sebuah kalimat gombal remaja yang tulus meluncur begitu saja.

Maura tertawa, suara yang selalu berhasil menghalau kabut kelabu di kepalaku. Ia kemudian duduk di tepian beton, membiarkan kakinya menggantung di udara. Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup dekat agar aku bisa merasakan kehadirannya yang solid.

"Adit," panggilnya pelan. "Kadang aku merasa kalau aku berasal dari tempat yang sangat jauh. Tempat di mana tidak ada jam pelajaran, tidak ada guru yang galak, dan tidak ada kesedihan yang harus disembunyikan."

Lihat selengkapnya