"Aku membeli gelang biru. Semoga besok aku sempat memberikannya. Karena bagi dunia, hari ini mungkin biasa saja, tapi bagiku, hari ini adalah alasan mengapa semesta menciptakan cahaya." — Diary Adit, 17 September.,
Tanggal 18 September. Aku sudah menandai tanggal ini di kalender kecil di atas meja belajarku dengan lingkaran tinta merah yang tebal. Bagi siapa pun di SMA Negeri, hari ini mungkin hanyalah hari Rabu biasa yang membosankan dengan tugas sosiologi yang menumpuk. Namun bagiku, hari ini adalah hari kelahiran Maura—atau setidaknya, hari yang kupilih untuk merayakan keberadaannya di duniaku.,
Aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Ada debar yang tidak biasa di dadaku, sebuah ritme antisipasi yang membuat ujung jemariku sedikit bergetar. Di dalam tas sekolahku, terselip sebuah kotak beludru kecil yang telah kujaga seolah itu adalah jantungku sendiri. Di dalamnya melingkar sebuah gelang biru handmade yang kubeli dengan tabungan hasil menyisihkan uang jajan selama dua bulan terakhir. Di bagian dalamnya, aku meminta pengrajinnya mengukir satu nama dengan sangat teliti: Maura.,,
Pagi itu, sekolah diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Aku berdiri di depan gerbang, menggenggam kotak hadiah itu erat-erat di dalam saku almamaterku. Aku menunggu. Setiap siswi yang melangkah masuk dengan seragam putih-abu-abu kupastikan wajahnya, namun tak satu pun dari mereka yang memiliki binar mata seperti Maura.
"Maura..." bisikku pelan, membiarkan nama itu menguap bersama udara dingin pagi hari.
Aku baru menemukannya saat jam istirahat pertama, di taman belakang sekolah yang jarang dikunjungi siswa lain karena dianggap angker. Maura sedang duduk di bawah pohon akasia, jemarinya tampak sibuk menangkap helai-helai cahaya matahari yang menembus celah dedaunan. Ia mengenakan cardigan putih andalannya. Saat melihatku, senyumnya mengembang—sebuah pemandangan yang selalu berhasil membuat seluruh keraguanku tentang dunia ini mendadak lenyap.,
"Kamu datang," ucapnya lembut.
"Aku tidak mungkin melewatkan hari ini," jawabku sambil duduk di sampingnya. Aku bisa mencium aroma sampo bunga yang menjadi ciri khasnya, begitu nyata dan menenangkan.
Aku merogoh saku, mengeluarkan kotak beludru itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Selamat ulang tahun, Maura. Aku tahu ini mungkin tidak seberapa, tapi aku ingin kamu memakainya."
Maura terpaku. Ia menatap kotak di tanganku seolah-olah aku baru saja menyodorkan sebuah artefak dari surga. Perlahan, ia membuka kotak itu. Saat melihat kilau gelang berwarna biru langit dengan ukiran namanya, matanya mulai berkaca-kaca. Butiran bening mulai jatuh membasahi pipinya yang pias.