Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #8

Nama di Papan Pengumuman

"Aku terbangun dengan rasa dingin yang tidak mau pergi. Di dalam mimpiku, wajahmu hilang, Maura. Tapi saat aku menyentuh kotak di atas mejaku, aku tahu kamu nyata. Kamu harus nyata. Karena jika tidak, maka akulah yang sedang menghilang."Diary Adit, 18 September (Pagi).

Mimpi itu tidak benar-benar berakhir saat aku membuka mata. Wajah kosong tanpa fitur itu seolah tertinggal di langit-langit kamarku, berputar-putar di antara bayangan lampu tidur. Aku terbangun dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi bantal. Tanganku segera meraba meja samping tempat tidur. Kotak beludru itu masih ada di sana. Kosong.

Gelang biru itu sudah berpindah ke pergelangan tangannya kemarin. Aku masih bisa merasakan dingin kulitnya saat aku mengunci pengait gelang itu. Itu nyata. Sensasi itu tidak mungkin bohong.

Aku berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya, bahkan sebelum penjaga sekolah selesai menyapu halaman. Pagi ini, udara terasa lebih berat, seolah oksigen di sekitarku berubah menjadi cairan yang sulit kuhirup. Aku berdiri di depan gerbang, mataku menyisir setiap siswi yang datang. Satu jam berlalu. Bel masuk berbunyi dengan lengkingan yang menyakitkan telinga, tapi Maura tidak muncul.

"Mungkin dia sakit," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar asing, seperti berasal dari dasar sumur yang dalam. "Atau mungkin dia terlambat karena kehujanan semalam."

Aku berjalan menuju kelas dengan langkah yang goyah. Setiap kali aku melewati papan pengumuman di lobi sekolah, aku berhenti. Aku mencari namanya di daftar peserta lomba seni, di daftar peminjaman buku perpustakaan, atau di daftar apa pun. Aku butuh melihat nama M-A-U-R-A tertulis di sana dalam tinta hitam yang sah, bukan hanya ukiran liar yang kubuat dengan jangka di atas kayu meja. Tapi papan pengumuman itu hanya berisi daftar nama asing yang terasa seperti ejekan.

Di dalam kelas, bangku di sampingku kosong. Benar-benar kosong.

Tidak ada aroma sampo bunga. Tidak ada suara gesekan cardigan putih. Jam pertama dimulai—Matematika—tapi aku tidak bisa mendengar apa pun kecuali detak jam dinding yang terdengar seperti palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Kepalaku mulai berdenyut hebat. Bayangan wajah Maura yang blank dalam mimpi semalam kembali muncul, tumpang tindih dengan kursi kosong di sampingku.

"Adit? Kamu memperhatikan?" Suara Pak Guru memecah lamunanku.

Aku berdiri mendadak, membuat kursiku berderit keras di lantai beton. "Maura... Maura di mana, Pak?"

Seluruh kelas mendadak hening. Pak Guru mengerutkan kening, menatapku dengan tatapan bingung yang perlahan berubah menjadi prihatin. "Siapa, Adit? Tidak ada siswi bernama Maura di kelas ini."

Tawa kecil meledak di barisan belakang. "Maura lagi? Dit, dari kemarin lu ngomongin Maura mulu, emang dia siapa sih? Hantu?"

Darahku terasa mendidih. Aku tidak peduli pada tawa mereka. Aku berlari keluar kelas, mengabaikan teriakan Pak Guru. Aku berlari menuju kantin, menuju meja pojok tempat kami mengukir nama. Aku mengusap ukiran itu dengan kalap. Adit + Maura. Ini ada! Ini nyata!

Lihat selengkapnya