"Dunia orang dewasa adalah tempat di mana ketidaktahuan sering kali menyamar menjadi kehati-hatian, dan ketakutan dipoles menjadi peraturan. Mereka bicara seolah aku adalah bom waktu, tanpa menyadari bahwa akulah yang baru saja hancur terkena ledakannya." — Diary Adit, 20 September.,
Ruang rapat guru siang itu terasa lebih pengap dari biasanya. Aroma kopi hitam yang mulai mendingin bercampur dengan sisa bau asap rokok yang menyusup dari ventilasi, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di tengah meja oval panjang, sebuah map cokelat berisi laporan medis Adit Pradana tergeletak seperti sebuah barang bukti kejahatan yang siap diadili.,
"Saya hanya ingin kepastian, apakah Adit aman untuk kembali?" Guru Olahraga memulai pembicaraan dengan nada berat, melipat tangan di dada. "Kejadian di lapangan kemarin itu bukan hal kecil. Anak-anak ketakutan. Beberapa orang tua murid bahkan sudah menelepon saya, bertanya apakah anak mereka aman berada di satu lingkungan dengan siswa yang... ya, kita tahu sendiri, tidak stabil.",
"Benar," sahut guru lain dari pojok ruangan. "Kalau dia tiba-tiba mengamuk di tengah pelajaran bagaimana? Kita tidak punya tenaga pengamanan khusus untuk menangani siswa dengan gangguan jiwa. Ini sekolah umum, bukan institusi kesehatan.",
Kata-kata itu melayang di udara, tajam dan dingin. "Gangguan jiwa", "mengamuk", "tidak stabil"—istilah-istilah itu dilemparkan seolah-olah Adit bukan lagi remaja laki-laki yang dua minggu lalu masih duduk tenang melukis di ruang seni, melainkan sebuah ancaman yang harus segera dieliminasi.,
Lalu, seorang guru senior berdeham, merapikan kacamatanya dengan ragu. "Maaf, mungkin ini terdengar konyol, tapi... apakah penyakit seperti itu bisa menular? Maksud saya, secara psikologis, apakah pengaruh halusinasinya bisa mengganggu mental siswa-siswa lain yang masih sehat? Kita harus memikirkan kepentingan mayoritas.",
Keheningan yang berat menyelimuti ruangan. Pertanyaan itu, meski didasari oleh ketidaktahuan yang murni, adalah puncak dari stigma yang selama ini mengintai di balik tembok sekolah.
Bu Sri Ningsih, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan catatan di hadapannya, perlahan berdiri. Beliau tidak tampak marah. Wajahnya tetap tenang, namun ada aura ketegasan yang tak terbantah terpancar dari sorot matanya yang teduh di balik kacamata tipis.,,