Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #11

Obat Pertama, Efek Samping, dan Hari-hari yang Suram

"Obat mulai bekerja. Maura mulai memudar. Kadang dia hanya bayangan. Kadang dia tidak bisa berbicara. Setiap malam aku berlutut di lantai kamar dan memohon agar Maura tidak pergi. Aku tahu aku gila. Tapi aku lebih suka gila daripada sendirian."Diary Adit, 22 September.

Butiran kecil berwarna putih itu tergeletak di telapak tanganku, tampak tidak berbahaya, hampir seperti butiran gula. Namanya asing—Risperidone—namun kekuatannya sanggup menjungkirbalikkan seluruh duniaku. Ayah berdiri di ambang pintu kamar dengan segelas air putih dan tatapan yang seolah memohon agar aku tidak menolak. Ayah tidak lagi banyak bicara sejak kami pulang dari rumah sakit; ia hanya menjadi bayangan yang memastikan aku menelan "kesembuhanku" tepat waktu.

Aku meminumnya. Dingin air menyapu pil itu masuk ke kerongkonganku, dan seketika itu juga, aku merasa baru saja mengunci pintu menuju satu-satunya tempat di mana aku merasa dicintai.

Efeknya tidak datang seperti ledakan, melainkan seperti kabut tebal yang merayap pelan menyelimuti hutan. Satu jam kemudian, kepalaku mulai terasa berat. Brain fog, begitu dokter menyebutnya. Pikiran-pikiranku yang biasanya melompat lincah seperti tupai, kini terasa seperti siput yang merangkak di atas aspal basah. Aku mencoba memikirkan warna biru muda hujan, namun yang muncul di kepalaku hanyalah warna abu-abu yang mati.

Dampak yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan tubuhku sendiri. Saat aku mencoba memegang kuas sore itu, tanganku gemetar. Bukan gemetar karena takut atau gugup, melainkan tremor halus yang konstan, efek samping dari zat kimia yang kini mengalir di darahku.

"Maura?" bisikku lirih ke arah sudut kamar.

Lihat selengkapnya