Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #12

Stigma di Lorong Sekolah

"Hari ini mereka bilang Maura tidak pernah ada. Tapi kenapa aku masih bisa mengingat suara tawanya? Jika dunia ini nyata, lalu mengapa ia terasa begitu dingin tanpa kehadiran bayangan?"Diary Adit, 19 September.,

Langkah kakiku terasa seberat timah saat melewati gerbang sekolah pagi ini. Seragam putih-abu-abu yang kukenakan terasa seperti kostum panggung yang salah ukuran, seolah-olah seluruh benang yang menyusunnya ikut berteriak memberitahu dunia bahwa aku tidak lagi sama. Aku berjalan menunduk, memandangi ujung sepatu hitamku yang bergerak ritmis di atas ubin koridor, mencoba mengabaikan atmosfer yang mendadak berubah menjadi beku setiap kali aku melintas.

Dunia di sekitarku kini terbagi menjadi dua: mereka yang menatapku dengan ketakutan yang terang-terangan, dan mereka yang menatapku dengan rasa iba yang jauh lebih menyakitkan.

"Itu anak gila yang kemarin teriak-teriak di lapangan, kan?" sebuah bisikan tajam menusuk gendang telingaku saat aku melewati gerombolan siswa di depan mading.

"Sst, pelankan suaramu! Nanti dia mengamuk. Katanya orang seperti dia bisa tiba-tiba menyerang kalau 'temannya' tidak kelihatan," sahut yang lain dengan nada yang dibungkus ketakutan,.

Aku mengepalkan tangan di dalam saku almamater. Ingin rasanya aku berteriak bahwa aku tidak berbahaya, bahwa aku hanya sedang berduka. Namun, suaraku seolah tertahan di tenggorokan, terkubur di bawah efek sisa obat yang membuat lidahku terasa kaku. Setiap bisikan itu terasa seperti paku yang dipukul masuk ke dalam harga diriku. Skizofrenia ternyata bukan hanya sebuah kondisi medis yang tertulis di kertas resep Dokter Hendra, melainkan sebuah kondisi sosial yang membuatku menjadi paria di tempat yang dulu kusebut sebagai rumah kedua.

Saat memasuki kelas, kenyataan pahit kembali menghantamku. Meja di barisan belakang, tempatku biasanya duduk, kini tampak lebih luas dari biasanya. Bukan karena Maura tidak ada di sana—aku sudah tahu itu—tapi karena dua orang teman sekelas yang dulu sering meminjam buku gambar atau sekadar mengajakku mabar, kini telah memindahkan meja mereka ke barisan paling depan tanpa sepatah kata pun. Mereka menjaga jarak seolah-olah penyakitku adalah virus yang bisa menular lewat udara yang kuhirup.

Aku duduk sendirian. Kursi di sampingku, yang dulu selalu dipenuhi oleh tawa dan aroma sampo bunga Maura, kini terasa seperti lubang hitam yang siap menelan apa pun yang mendekatinya.

Lihat selengkapnya