Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #13

Ayah yang Juga Retak

"Dulu aku berjanji padanya untuk menjagamu. Sekarang, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menjagamu dari dirimu sendiri. Maafkan Ayah, Adit. Ternyata, melihatmu hancur jauh lebih menyakitkan daripada saat aku sendiri yang kehilangan duniamu."Catatan di Balik Foto, Surya Pradana.

Riuh suara anak-anak SD di lapangan upacara biasanya menjadi musik yang paling menenangkan bagiku. Sebagai guru, tawa mereka adalah pengingat bahwa masa depan selalu memiliki cara untuk tumbuh kembali, tidak peduli seberapa keras hujan menghantam tanah kemarin. Namun siang ini, suara-suara itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telingaku. Aku duduk di meja kantor guru, menatap tumpukan kertas ujian yang belum diperiksa, namun mataku justru terpaku pada sebuah map cokelat di sudut meja—laporan medis dari psikiater Adit.,

Aku adalah seorang guru, pria yang seharusnya memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan anak-anak. Namun, saat menghadapi anak kandungku sendiri, aku merasa seperti murid yang gagal total dalam ujian paling krusial dalam hidup.

Pikiranku melayang kembali ke belasan tahun yang lalu. Ke malam terakhir sebelum istriku mengembuskan napas terakhirnya di bangsal rumah sakit yang dingin. Tangannya yang kurus menggenggam jemariku erat, matanya yang redup menatapku dengan permohonan yang tak terucap. "Jaga Adit, Mas. Jangan biarkan dia merasa sendirian."

Kalimat itu telah menjadi kompas hidupku selama bertahun-tahun. Aku berusaha menjadi segalanya bagi Adit; menjadi ayah, menjadi ibu, menjadi teman. Namun, insiden gelang biru di SMA Negeri beberapa hari lalu telah membuktikan satu hal yang menyakitkan: aku telah gagal menjaga janji itu. Adit tidak hanya sendirian; ia terjebak dalam sebuah labirin di kepalanya sendiri, mencari perlindungan pada sosok yang tidak pernah ada.,

"Pak Surya? Ada telepon dari SMA-nya Adit."

Suara Bu Rina, rekan sesama guru, menyentakku kembali ke kenyataan. Aku segera menyambar telepon itu dengan tangan yang gemetar. Pikiranku langsung dipenuhi skenario terburuk: apakah Adit mengamuk lagi? Apakah dia histeris mencari gadis bayangan itu lagi?,

"Halo, Pak Surya. Ini Bu Sri dari SMA," suara tenang itu menyapa.

"Ya, Bu Sri. Ada apa dengan Adit? Apa dia kumat lagi?" suaraku meninggi tanpa bisa kukontrol.

"Tenang, Pak. Adit baik-baik saja. Dia sedang di ruang BK bersama saya. Dia hanya... tampak sangat lelah. Saya menyarankan agar Bapak menjemputnya lebih awal hari ini. Adit butuh istirahat di lingkungan yang membuatnya merasa aman."

Aku mengembuskan napas lega yang terasa begitu berat. "Baik, Bu. Saya segera ke sana."

Lihat selengkapnya