"Obat mulai bekerja. Maura mulai memudar. Kadang dia hanya bayangan. Kadang dia tidak bisa berbicara. Mereka bilang aku sembuh, tapi tidak ada yang menyadari bahwa aku baru saja mati." — Diary Adit, 25 September.
Malam ini, rumah terasa seperti sebuah makam yang luas. Keheningan merayap di sela-sela lantai kayu, merambat naik ke dinding, dan mencekik setiap suara yang mencoba keluar dari tenggorokanku. Sejak diagnosis itu dijatuhkan, sejak kata "Skizofrenia" menjadi label permanen di kepalaku, duniaku kehilangan seluruh spektrum warnanya.
Aku duduk di lantai kamarku yang gelap, hanya diterangi oleh seberkas cahaya bulan yang pucat dari celah jendela. Di hadapanku, sebuah kanvas kosong berdiri seperti sebuah nisan. Aku mencoba memegang kuas, namun tanganku bergetar hebat—efek samping Risperidone yang membuat sarafku terasa seperti kawat yang ditarik terlalu kencang.
Dunia luar sangat lega. Ayah bisa kembali tersenyum tipis saat melihatku menelan pil putih itu tepat waktu. Guru-guru di sekolah mulai menganggapku "normal" kembali. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap kali aku menelan obat itu, aku sedang melakukan pembunuhan berencana terhadap satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkanku.
Tiba-tiba, aku merasakannya. Aroma samar sampo bunga yang sudah mulai memudar dari ingatanku.
Aku menoleh perlahan ke arah sudut kamar. Di sana, di antara bayangan lemari tua, ia duduk. Maura. Namun, ia tidak lagi mengenakan cardigan putih yang cerah. Sosoknya tampak pias, hampir transparan, seolah-olah ia terbuat dari sisa asap yang tertinggal setelah api padam.
"Kau masih di sini," bisikku. Suaranya pecah, lebih mirip isakan yang tertahan.