Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #15

Gadis ini Bernama Naura

"Dunia ini mendadak menjadi sangat bising oleh kesunyian. Kursi di sampingku kembali menjadi sekadar kayu dan besi, tanpa aroma bunga, tanpa bisikan puisi. Mereka bilang aku sudah kembali ke kenyataan, tapi kenapa kenyataan terasa begitu asing?"Diary Adit, 5 Oktober.

Hari itu, langit di atas sekolah tampak seperti kanvas yang dicuci paksa dengan warna abu-abu. Tidak ada biru muda. Tidak ada keajaiban. Aku duduk di barisan paling belakang, mencoba menstabilkan tanganku yang masih mengalami tremor halus akibat dosis Risperidone yang baru saja dinaikkan. Dunianya kini terasa datar, dibungkus oleh kabut otak (brain fog) yang membuat suara penjelasan guru di depan kelas terdengar seperti dengung lebah dari balik dinding kaca.

Tiba-tiba, pintu kelas berderit terbuka. Pak Guru masuk diikuti oleh seorang gadis yang mengenakan seragam putih-abu-abu yang masih tampak kaku dan baru.

"Anak-anak, perhatian sebentar. Kita kedatangan siswi pindahan dari Bandung," ucap Pak Guru memecah keheningan yang menyesakkan.

Aku tidak langsung mendongak. Aku terlalu sibuk menggigit bibir bawahku, sebuah teknik yang diajarkan Bu Sri untuk memaksaku tetap berpijak pada rasa sakit yang nyata setiap kali aku merasa duniaku mulai bergetar. Namun, saat gadis itu mulai memperkenalkan dirinya, aku merasa seluruh oksigen di paru-paruku ditarik paksa.

"Nama saya Naura Prameswari," ucapnya pelan.

Suara itu. Aku tersentak dan mendongak. Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada dengan irama yang menyakitkan. Aku membeku di tempat, napasku tercekat. Gadis yang berdiri di depan kelas itu memiliki wajah yang nyaris identik dengan Maura—mata yang teduh dan garis wajah yang lembut—namun ada perbedaan yang sangat mencolok: rambutnya pendek.

Lihat selengkapnya