Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #16

Obat yang Membuat Lupa

"Dulu aku takut pada suara-suara yang tidak didengar orang lain. Sekarang, aku jauh lebih takut pada kesunyian yang ditinggalkan oleh obat-obat ini. Mereka tidak hanya mengusir Maura, mereka mulai menghapus warna dari setiap kenangan yang kusimpan." — Diary Adit, 10 Oktober.

Dosis Risperidone-ku baru saja dinaikkan minggu ini. Ayah meletakkan dua butir pil putih itu di telapak tanganku setiap pagi dengan binar harapan di matanya, seolah-olah ia sedang memberiku kunci menuju kebebasan. Namun bagiku, setiap butir yang kutelan terasa seperti penghapus yang perlahan-lahan mengikis sketsa indah di dalam kepalaku.

Dunia kedokteran menyebutnya brain fog atau kabut otak, sebuah istilah yang terdengar terlalu puitis untuk sebuah proses penghancuran identitas yang begitu brutal. Rasanya seperti berjalan di dalam ruangan yang penuh dengan asap tebal; aku tahu ada benda-benda berharga di sana, tapi aku tidak bisa lagi melihat bentuknya dengan jelas.

"Adit, kau sudah selesai mencatat?" suara Pak Guru terdengar seperti dengung lebah yang jauh di balik dinding kaca.

Aku tersentak. Aku menatap buku tulisku yang masih kosong. Aku menyadari satu hal yang mengerikan: aku lupa nama teman sekelas yang duduk tiga bangku di depanku, padahal kami sering bermain bola bersama saat SMP. Aku mencoba memanggil namanya di dalam pikiran, namun yang muncul hanyalah kekosongan yang dingin.

Erosi ini merambat ke mana-mana. Aku lupa judul lagu yang dulu sering kudengar bersama Maura di halte saat hujan. Aku lupa rasa tahu goreng yang katanya terbaik di dunia. Bahkan, saat aku mencoba memejamkan mata di tengah pelajaran, aku menyadari sebuah kenyataan yang menghancurkan: aku mulai lupa warna mata Maura.

Biasanya, cukup dengan menutup mata, aku bisa melihat binar biru di matanya yang menenangkan. Sekarang, yang kulihat hanyalah blur—sebuah bayangan pudar yang tidak memiliki fitur jelas. Maura mulai menjadi seperti mimpi yang segera menguap setelah kita bangun. Aku mencoba menggenggam bayangannya erat-erat, namun obat ini terus menariknya paksa dari genggamanku.

Lihat selengkapnya