"Ada luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, hanya bisa ditemani dengan kehadiran. Kakak mengajariku bahwa menjadi teman bagi satu orang yang kesepian adalah cara terbaik untuk tetap merasa hidup di dunia yang fana ini." — Catatan Naura, 12 Oktober.
Kamar di rumah nenek ini selalu berbau kayu tua dan sisa-sisa melati yang mengering di dalam vas. Setiap kali aku duduk di tepi jendela, menatap ke arah halaman sekolah SMA Negeri yang terlihat samar dari kejauhan, aku merasa seperti sebuah pecahan kaca yang dipaksa menyatu kembali. Aku adalah Naura Prameswari, siswi pindahan dari Bandung yang membawa lebih banyak beban di dalam tas daripada buku pelajaran.
Tanganku perlahan mengelus permukaan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan kiriku. Jam ini terlalu besar, logamnya terasa dingin di kulitku, namun aku tidak pernah melepaskannya. Ini adalah milik Kak Arga. Kakakku, pelindungku, dan satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara meredakan badai di kepalaku sebelum ia sendiri hilang ditelan badai yang nyata.
Enam bulan lalu, duniaku runtuh. Kak Arga meninggal dalam kecelakaan lalu lintas tepat setelah ia mengantarkan bantuan untuk korban banjir. Aku masih ingat bau bunga lili putih yang memenuhi rumah duka, suara tangis Mama yang tidak kunjung reda, dan bagaimana aku merasa separuh jiwaku ikut terkubur bersama peti mati kayu jati itu.
Dua bulan setelah pemakaman, saat aku sedang mengemasi barang-barangnya untuk diberikan kepada panti asuhan, aku menemukan sebuah amplop di laci paling bawah meja belajarnya. Tulisan tangannya sudah mulai memudar, namun isinya adalah wasiat yang mengubah seluruh arah hidupku.
"Naura..." surat itu dimulai dengan nada yang sangat akrab, seolah ia sedang duduk di hadapanku. "Kalau suatu hari aku pergi lebih dulu, jangan biarkan Mama dan Papa menangis terlalu lama. Temukan satu orang yang paling kesepian di sekitarmu, dan jadilah temannya. Itu sudah cukup untuk membuatku tetap hidup di dalam dirimu."
Kalimat itu diikuti oleh prinsip yang selalu ia ucapkan setiap kali kami membantu orang di jalan: "Kalau kita masih mampu menolong orang, jangan ditunda. Belum tentu besok kita masih punya kesempatan.".