Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #18

Hujan dan Déjà Vu

Bel pulang sekolah berdentang, namun suaranya nyaris tenggelam oleh deru air yang tumpah dari langit. Hujan kali ini tidak datang perlahan; ia datang dengan amarah, menghantam atap seng selasar sekolah dan menciptakan tirai air yang membatasi pandangan hingga hanya sejauh beberapa meter saja.

"Dunia ini seolah-olah sedang memutar kaset lama yang sudah berdebu. Hujan yang sama, lorong yang sama, dan wajah yang sama. Aku berdiri di ambang pintu, terjepit di antara memori yang ingin memelukku dan kenyataan yang ingin menyembuhkanku. Apakah kamu benar-benar kembali, atau aku yang sedang pergi lagi?" — Diary Adit, 15 Oktober.

Aku berdiri membeku di depan kelasku yang sudah mulai sepi. Tas ranselku tersampir miring di satu bahu, sementara tanganku meremas tali tas itu hingga buku-bukuku jariku memutih. Bau tanah basah dan hawa dingin yang menusuk segera merayap masuk ke dalam hidungku, membawa serta gelombang déjà vu yang begitu kuat hingga kepalaku terasa berdenyut.

Ini adalah setting yang sama. Persis seperti hari itu. Hari ketika duniaku yang abu-abu pertama kali mendapatkan warna biru mudanya.

Lalu, dari ujung lorong yang gelap, seseorang berjalan mendekat.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Seluruh otot di tubuhku mendadak kaku, memaksaku tetap berdiri di tempat seolah-olah kakiku telah menyatu dengan beton selasar. Sosok itu berjalan perlahan, menundukkan kepalanya saat melihat rintik hujan yang memercik ke arah sepatunya—sebuah gerakan kecil yang sangat akrab di ingatanku. Saat ia mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah langit, duniaku seolah berhenti berputar.

Wajah itu.

Mata yang teduh, garis hidung yang halus, dan cara bibirnya sedikit melengkung seolah menyimpan rahasia kecil. Ia sangat mirip. Terlalu mirip. Hanya satu hal yang membedakannya: rambutnya pendek, dipotong rapi hingga menyentuh leher, bukan terurai panjang seperti Maura yang selalu hadir dalam halusinasiku.

"Maura?" Nama itu tertahan di ujung lidahku, terbakar oleh rasa takut dan kerinduan yang amat sangat.

Di dalam kepalaku, terjadi peperangan yang brutal. Sebagian dari diriku—bagian yang selama ini meratap di malam-malam sunyi—berteriak kegirangan, yakin bahwa Maura akhirnya kembali dalam wujud yang berbeda. Namun, bagian lain dari diriku, bagian yang sudah dipasung oleh diagnosis psikiater dan pil-pil putih dari Ayah, berbisik dengan nada dingin: Ini bukan dia. Ini hanya otakmu yang sedang mengulang episode psikosis. Ingat kata Bu Sri, jangan percaya pada pandangan pertama.

Lihat selengkapnya