Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #19

Karantina

"Ruangan ini tidak memiliki jeruji, tapi kenapa aku merasa sedang dipenjara? Ayah mengunci pintu depan karena ia takut aku akan mengejar bayangan. Ia tidak sadar bahwa yang sebenarnya sedang kukejar saat ini adalah seberkas cahaya yang nyata—yang mengirimiku pesan di tengah malam."Diary Adit, 20 Oktober.

Suara kunci yang diputar dari luar terdengar seperti vonis mati di telingaku. Klik. Satu putaran. Klik. Dua putaran. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap pintu kayu kamarku yang tertutup rapat. Di luar, aku bisa mendengar langkah kaki Ayah yang berat menjauh menuju ruang tamu. Ayah tidak sedang menghukumku karena aku nakal; ia sedang menghukumku karena ia mencintaiku dengan cara yang salah—cara yang didasari oleh ketakutan yang melumpuhkan.

Dua minggu. Itu adalah durasi "karantina" yang diputuskan Ayah setelah insiden kemarin sore.

Semuanya berawal saat aku sedang duduk di teras belakang, menatap rintik hujan yang mulai membasahi jemuran. Tanpa kusadari, aku mulai bergumam. Aku sedang menceritakan tentang Naura—gadis nyata yang berambut pendek itu—kepada udara kosong di sampingku. Aku sedang mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa Naura benar-benar ada, namun di mata Ayah, aku tampak seperti sedang kambuh. Ayah melihatku bicara sendiri lagi, dan seketika itu juga, trauma masa lalunya tentang kematian Ibu dan diagnosis skizofreniaku meledak menjadi kepanikan yang luar biasa.

"Kamu tidak boleh sekolah dulu, Adit. Kamu butuh istirahat total. Ayah tidak mau kehilangan kamu seperti Ayah kehilangan Ibu," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca sebelum mengurungku di sini.

Kini, aku terjebak dalam kesunyian yang mencekam. Kamar ini terasa sangat sempit, seolah dinding-dindingnya perlahan merapat untuk menghimpitku. Aroma sampo bunga Maura yang biasanya menenangkan kini tidak terasa lagi, mungkin karena pengaruh dosis Risperidone yang membuat sarafku mati rasa. Maura benar-benar menghilang, dan ironisnya, di saat aku mulai belajar menerima kenyataan, kenyataan justru mengurungku karena dianggap tidak sehat.

Satu-satunya jendelaku menuju dunia luar adalah benda persegi panjang yang kusembunyikan di bawah bantal: ponselku.

Ponsel itu bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang redup.

Naura: Adit? Tadi aku ke kelas, tapi bangkumu kosong. Bu Sri bilang kamu izin sakit. Kamu nggak apa-apa, kan?

Lihat selengkapnya