Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #20

Bukti-Bukti yang Tidak Diundang

"Mereka bilang rahasia terbaik adalah yang disimpan di dalam kepala. Tapi mereka lupa, cinta selalu butuh ruang fisik untuk bernapas—di atas meja, di kulit pohon, atau di sela-sela rak buku. Sekarang, duniaku yang paling sunyi baru saja dimasuki oleh seseorang yang membawa kunci yang tidak pernah kuberikan." — Diary Adit, 20 Oktober.

Sudah sepuluh hari aku terkurung di dalam kamar ini. Ayah masih memegang kunci pintu depan dengan rasa takut yang berlebihan, menganggap bahwa isolasi adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkanku dari "kejaran bayangan". Di dalam sini, udara terasa basi. Aku menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit atau meminum butiran pil putih yang membuat jemariku bergetar halus dan pikiranku terasa seperti dibungkus kabut tebal.

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu kamar memecah keheningan. Aku mengira itu Ayah yang membawakan nampan makan siang, namun saat pintu terbuka, bukan wajah lelah Ayah yang kulihat.

Naura berdiri di sana.

Ia mengenakan seragam sekolah yang sedikit basah karena gerimis di luar. Rambut pendeknya berantakan, dan napasnya sedikit terengah-engah seolah ia baru saja berlari menghindari penjagaan Ayah di ruang tamu. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tulis—mungkin alasan yang ia gunakan agar Ayah mengizinkannya masuk.

"Adit," ucapnya pelan.

Aku tidak menjawab. Aku justru merasa ngeri. Melihatnya berdiri di dalam kamarku terasa seperti melihat kenyataan yang sedang mencoba meruntuhkan benteng pertahanan terakhirku. Aku mundur selangkah, meremas sprei tempat tidurku.

"Kenapa kamu di sini, Naura?" tanyaku, suaraku parau karena jarang digunakan.

Naura tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, matanya menyisir setiap sudut kamarku yang dipenuhi oleh tumpukan kertas gambar dan sisa-sisa aroma cat minyak. Ia meletakkan buku tulisnya di meja belajarku, tepat di samping kotak beludru kosong yang dulu berisi gelang biru.

"Aku mencarimu ke seluruh sekolah, Adit," kata Naura dengan nada yang tenang namun menyimpan ketegasan. "Karena kamu tidak ada, aku mulai mencari hal lain. Hal-hal yang kamu tinggalkan."

Jantungku berdegup kencang. "Maksudmu?"

Naura menarik napas panjang. "Aku melihatnya, Adit. Ukiran di meja pojok kantin. Adit + Maura Selamanya. Aku juga melihat ukiran yang mulai pudar di pohon tua belakang sekolah, dan tulisan di tembok belakang WC."

Lihat selengkapnya