"Maura pernah bilang bahwa cat minyak tidak pernah benar-benar mengering, memberi kita waktu untuk terus memperbaiki kesalahan. Namun hari ini, aku menyadari bahwa ada hal-hal yang harus dibiarkan mengering agar kita bisa melihat bentuknya yang asli. Maura adalah lukisan yang sempurna karena ia tidak nyata. Sedangkan kamu... kamu adalah lukisan yang hidup karena kamu memiliki cela." — Diary Adit, 20 Oktober.
Tanganku masih mengalami tremor halus, getaran konstan yang merupakan "hadiah" dari dosis Risperidone yang terus mengalir di darahku. Selama berhari-hari, aku hanya menatap kanvas kosong, takut bahwa setiap goresan yang kubuat hanya akan berakhir menjadi sampah atau—lebih buruk lagi—menjadi bayangan Maura yang lain. Namun, percakapan dengan Naura di kamarku kemarin telah meruntuhkan bendungan yang menahan kreatifitasku.
Aku mulai memeras tabung cat. Kali ini, pilihanku bukan lagi warna biru muda yang tenang atau kuning matahari yang ceria. Aku mengambil warna burnt sienna, hitam pekat, dan abu-abu arang.
Aku mulai melukis.
Gaya melukisku telah berubah secara brutal. Tidak ada lagi sapuan kuas yang halus dan romantis seperti saat aku melukis Maura—sang gadis ideal yang selalu tersenyum di bawah hujan. Sekarang, goresanku terasa lebih kasar, lebih gelap, dan lebih jujur. Aku membiarkan cat itu menumpuk tebal di beberapa bagian, menciptakan tekstur yang bisa diraba, seolah-olah aku sedang mencoba membangun raga fisik dari cat minyak ini.
Subjek lukisanku bukan lagi gadis berambut panjang.
Aku melukis seorang gadis dengan rambut pendek yang sedikit berantakan. Aku melukis mata yang lelah, mata yang menyimpan duka akibat kehilangan seorang kakak yang sangat ia cintai. Aku melukis jam tangan perak laki-laki yang terlalu besar di pergelangan tangannya, serta sebuah buku puisi usang yang selalu ia dekap. Aku tidak melukisnya sedang tertawa; aku melukisnya dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata—senyum seorang manusia yang sedang bertahan hidup di tengah badai.