"Mereka membuka pintu kamarku dan bilang aku sudah bebas. Tapi saat aku melangkah ke koridor sekolah, aku menyadari bahwa penjara yang sebenarnya adalah tatapan mata orang-orang yang menganggapku sebagai kaca yang sudah pecah. Aku kembali, tapi tidak ada yang benar-benar sama lagi." — Diary Adit, 25 Oktober.,
Suara kunci yang diputar oleh Ayah pagi itu tidak lagi terdengar seperti vonis, melainkan seperti sebuah izin yang ragu-ragu. Setelah dua minggu "dikarantina" di rumah akibat kekhawatiran Ayah yang berlebihan, psikiater akhirnya menyatakan bahwa aku cukup stabil untuk kembali menghirup udara sekolah. Ayah melepasku di depan gerbang dengan tatapan yang seolah-olah sedang mengantarkan anaknya ke medan perang—penuh kecemasan dan doa yang tak putus-putus.
Aku melangkah menyusuri koridor SMA Negeri dengan kepala tertunduk. Efek samping Risperidone masih terasa; tremor halus di ujung jariku belum sepenuhnya hilang, dan kabut otak (brain fog) membuat suara riuh siswa di sekitarku terdengar seperti dengung yang jauh.
Namun, yang paling menyakitkan bukan efek obatnya, melainkan dinamika yang telah berubah total.
Saat aku melewati mading, bisikan-bisikan itu kembali merayap seperti serangga yang merambat di kulit. "Itu dia, si anak gila yang teriak-teriak kemarin," atau "Jangan terlalu dekat, nanti dia kumat lagi." Aku bukan lagi Adit sang pelukis; aku adalah sebuah stigma yang berjalan. Di dalam kelas, aku menemukan mejaku seolah-olah memiliki radius isolasi. Teman-teman sekelas yang dulu sering meminjam cat airku kini memindahkan meja mereka lebih jauh, meninggalkan aku di barisan belakang dalam sebuah pulau kesunyian yang nyata.
Aku duduk, menyentuh ukiran nama di mejaku yang mulai memudar. Adit + Maura. Ukiran itu terasa kasar di bawah jemariku, sebuah artefak dari masa ketika aku merasa utuh, meskipun itu hanyalah sebuah ilusi.