"Aku tidak perlu lagi mencari kamu di orang lain. Aku sudah menemukan kamu di tempat yang benar—di memori." — Diary Adit, 25 Oktober.
Malam itu, setelah hari-hari yang melelahkan karena harus menghadapi tatapan asing di sekolah dan tremor yang tak kunjung hilang, aku jatuh tertidur tanpa paksaan obat untuk pertama kalinya. Tidak ada suara bisikan Maura, tidak ada ketakutan akan bayangan yang mengintai di sudut mata. Aku terlelap dalam kegelapan yang tenang, dan di sanalah, di balik tirai kesadaranku, aku menemukannya.
Ini bukan halusinasi yang sering kali terasa seperti kabut dingin yang menusuk. Ini adalah sebuah mimpi—sangat jelas, sangat hangat, dan terasa begitu nyata hingga aku bisa mencium aroma bawang goreng yang terkaramelisasi di udara.
Aku berdiri di ambang pintu dapur rumah kami yang dulu, saat cat temboknya belum mengelupas dan kesunyian belum menjadi penghuni tetap. Di depan kompor, seorang wanita berdiri membelakangiku. Ia mengenakan daster rumahan yang sudah agak pudar warnanya, dengan rambut yang diikat asal-asalan ke atas—persis seperti yang selalu ia lakukan saat sedang sibuk berperang dengan bumbu dapur.
"Mama?" bisikku. Suaraku di dalam mimpi terdengar seperti suara anak kecil yang baru saja bangun dari tidur siang yang panjang.
Wanita itu menoleh. Ia tersenyum, jenis senyuman yang tidak pernah bisa kutemukan di wajah siapa pun, bahkan di wajah Maura sekalipun. Senyumnya tidak memiliki beban, tidak memiliki rahasia. Ia hanya menatapku dengan mata yang teduh.
"Kamu sudah makan, Adit?" tanyanya lembut.