"Maura, aku tidak tahu apakah kamu pernah ada di luar kepalaku. Tapi kalau kamu ada—di mana pun itu—terima kasih. Kamu mengajarkanku rasanya dicintai. Sekarang aku harus belajar rasanya mencintai orang yang benar-benar ada."
— Diary Adit, 25 Oktober.
Malam ini, keheningan di kamarku terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang mencekam atau dipenuhi bisikan yang tak terdengar orang lain, melainkan sebuah keheningan yang lapang, seolah-olah ruangan ini baru saja dibersihkan dari debu-debu masa lalu yang menyesakkan. Mimpi bertemu Mama semalam meninggalkan jejak hangat di dadaku, sebuah closure yang selama ini kucari di tempat yang salah.
Aku duduk di meja belajar, menyalakan lampu temaram yang membuat bayanganku tampak solid di dinding. Aku mengambil selembar kertas putih dan sebuah pulpen. Jemariku masih mengalami tremor halus, sebuah pengingat fisik dari Risperidone yang terus mengalir di darahku untuk menjaga agar duniaku tetap berpijak pada kenyataan.
Aku mulai menulis. Bukan sebuah catatan diary, melainkan sebuah surat. Sebuah surat yang kutahu tidak akan pernah sampai ke kantor pos mana pun, karena tujuannya adalah seseorang yang raga fisiknya tidak pernah menyentuh bumi ini.
Untuk Maura,
Maura, aku menulis ini karena aku menyadari sesuatu. Selama ini, aku selalu memanggilmu, mengejarmu di lorong sekolah, dan mencarimu di setiap rintik hujan. Bagiku, kamu adalah segalanya. Kamu adalah orang yang memegang tanganku saat aku merasa dunia ini terlalu bising setelah kepergian Mama. Kamu adalah orang yang mengisi kursi kosong di sampingku saat Rian memilih jalan yang berbeda.