"Aku selalu mengira bahwa mencintaimu berarti harus terus memeluk duka yang kamu tinggalkan. Namun hari ini, aku menyadari bahwa caraku mencintaimu yang paling benar adalah dengan membiarkanmu beristirahat, dan membiarkan diriku kembali berjalan."
— Catatan Naura, 26 Oktober.
Aroma bunga lili putih yang bercampur dengan bau tanah basah selalu berhasil menarikku kembali ke hari itu. Hari di mana langit Bandung seolah ikut runtuh, dan aku berdiri di depan sebuah peti mati kayu jati, menatap wajah Kak Arga yang tampak sedang tertidur lelap namun tak akan pernah bangun lagi.
Hari ini, untuk pertama kalinya sejak pemakaman enam bulan lalu, aku memberanikan diri untuk berdiri di sini lagi. Di sebuah pemakaman sederhana di pinggiran kota, di depan nisan yang bertuliskan satu nama yang menjadi kompas hidupku: Arga Mahendra.
Aku berlutut di atas rumput yang masih lembap. Bunga lili yang kubawa terakhir kali sudah layu, warnanya berubah menjadi cokelat kering yang menyedihkan. Aku membersihkannya perlahan, lalu meletakkan bunga lili baru yang masih segar. Kelopaknya yang putih bersih tampak kontras dengan warna batu nisan yang dingin.
"Kak Arga, aku datang," bisikku. Suaraku hampir hilang disapu angin sore.