"Kenangan tidak harus dilupakan. Kadang, ia hanya perlu diberi tempat yang tepat agar kita bisa terus melangkah." — Diary Adit, satu tahun kemudian.
Satu tahun telah berlalu sejak badai itu meluluhlantakkan duniaku. Malam ini, atap sekolah terasa sunyi, hanya ada deru angin yang membawa sisa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Aku duduk berdampingan dengan Naura, menatap kelap-kelip lampu kota Jakarta yang membentang seperti hamparan berlian yang tak beraturan.
Tidak ada lagi jeritan di tengah lapangan. Tidak ada lagi pelarian kalap mencari bayangan yang tak memiliki raga.
Naura menoleh perlahan, jam tangan perak milik kakaknya berkilau pelan di bawah cahaya bulan. Ia menatapku dengan mata teduh yang selalu berhasil membuatku merasa "ada" di dunia ini.
"Kau masih melihat dia?" tanya Naura pelan. Pertanyaan itu tidak lagi terdengar seperti tuduhan atau kecemasan, melainkan sebuah bentuk penerimaan atas seluruh bagian dari diriku yang retak.
Aku terdiam sejenak. Aku menatap sudut atap yang gelap. Di sana, di antara bayangan tangki air, aku melihat siluet samar seorang gadis bercardigan putih. Ia tidak bicara. Ia hanya berdiri di sana, memberikan sebuah senyum paling damai yang pernah kulihat, sebelum perlahan memudar menyatu dengan kegelapan malam.
"Kadang," jawabku jujur, suaraku kini lebih tenang dan berat. "Tapi aku tidak lagi mengejar."
Aku meraih tangan Naura. Kulitnya terasa hangat, solid, dan nyata—sebuah kontras yang membumikan setiap saraf di tubuhku. Naura tidak menarik tangannya. Ia justru menggenggam jariku lebih erat, seolah-olah sedang menyalurkan kekuatan agar aku tetap berpijak di sini, di atas atap ini, di dalam kenyataan ini.