Mesin mobil akhirnya mati, menyisakan desis halus dari radiator yang kepanasan setelah menempuh perjalanan dua jam dari pusat kota. Kirana tidak segera turun. Dia menyandarkan kepalanya di setir, memejamkan mata sembari menghirup sisa-sisa aroma kopi instan dingin yang tertinggal di cup holder. Di luar, keheningan langsung menyergap. Tidak ada deru knalpot motor yang saling bersahutan, tidak ada suara sirine ambulans yang membelah malam, dan yang paling penting: tidak ada suara bising dari proyek pembangunan apartemen di sebelah dinding kamarnya seperti di kota besar.
Hanya ada sunyi. Sunyi yang begitu pekat, hingga detak jarum jam tangannya sendiri terdengar seperti ketukan palu yang konsisten.
Kirana mengembuskan napas panjang, membuka mata, lalu menatap pantulan dirinya di spion tengah mobil. Sinar matahari sore yang mulai meredup mempertegas lingkaran hitam di bawah matanya. Di usia tiga puluh tahun, dia berhasil membangun reputasi sebagai seorang manajer proyek yang handal di sebuah agensi digital ternama. Dia perfeksionis, efisien, dan dingin. Namun, tiga bulan terakhir, tenggat waktu yang mencekik dan tekanan konstan dari klien hampir membuat kepalanya pecah. Migrennya kambuh hampir setiap hari, dan tidurnya tidak pernah lebih dari tiga jam semalam.
Dokter bilang dia mengalami burnout akut dan amnesia disosiatif ringan—efek dari stres ekstrem yang memicu otak memblokir hal-hal kecil karena terlalu penuh. Dokter menyarankannya untuk mengambil jeda.
"Jeda," gumam Kirana pada dirinya sendiri, seulas senyum sinis terkembang di bibirnya. Bagi wanita gila kerja seperti dirinya, jeda adalah sinonim dari kekalahan. Namun, demi menyelamatkan proyek peluncuran aplikasi terbesar tahun ini yang pengerjaannya didelegasikan ke rumah, dia mengalah. Dia menyewa rumah ini.
Kirana turun dari mobil. Sepatunya berderit saat menginjak rerumputan liar yang tumbuh di halaman depan. Rumah sewa barunya adalah sebuah bangunan tua bergaya kolonial. Dindingnya terbuat dari bata tebal yang dilapisi cat putih yang mulai mengelupas di beberapa sudut, menampilkan kesan kokoh sekaligus usang. Jendela-jendela kayunya besar dan tinggi, khas arsitektur masa lalu yang dirancang agar sirkulasi udara tetap maksimal. Rumah ini terletak di pinggiran kota yang sepi, dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang membuat suasananya terasa beberapa derajat lebih dingin daripada pusat kota.
Dia berjalan ke bagasi, mengeluarkan koper besar dan beberapa kardus berisi berkas kerja serta laptopnya. Kirana sengaja tidak membawa banyak pakaian. Fokusnya di sini hanya satu: bekerja tanpa gangguan, menyelesaikan draft proyek, lalu pulang untuk mengklaim bonus besarnya.
Pintu depan berbahan kayu jati berat berdecit nyaring saat Kirana memutar kunci dan mendorongnya ke dalam. Aroma udara lembab langsung menyapa hidungnya—campuran antara bau debu tipis, kayu tua, dan sisa-sisa pembersih lantai beraroma pinus yang mulai menguap. Pemilik rumah, seorang pria tua yang tinggal di luar kota, berjanji bahwa rumah ini sudah dibersihkan seminggu yang lalu. Namun setidaknya, janji itu terbukti. Lantai tegel bermotif geometris di ruang tengah tampak bersih, meski ada beberapa bagian yang warnanya sudah memudar dimakan usia.
Kirana membawa barang-barangnya langsung menuju kamar utama yang terletak di lantai dasar, tepat di sebelah ruang kerja darurat yang sudah direncanakan. Kamar itu luas, dengan langit-langit yang tinggi. Sebuah ranjang besi tempa berukuran besar terletak di tengah ruangan, menghadap langsung ke sebuah jendela besar yang menyajikan pemandangan halaman samping.
Namun, bukan ranjang itu yang menarik perhatian Kirana.
Di sudut ruangan, bersandar pada dinding bata yang dilapisi wallpaper bermotif sulur tanaman yang memudar, berdiri sebuah cermin besar. Tinggi cermin itu hampir dua meter, dengan bingkai kayu jati tebal yang dipenuhi pahatan rumit berbentuk sulur dan bunga teratai di bagian atasnya. Kayunya berwarna cokelat gelap kehitaman, tampak begitu kontras dengan dinding kamar yang pucat. Kacanya sendiri tampak tebal, dengan lapisan raksa di bagian belakang yang mulai bintik-bintik hitam di beberapa tepinya—tanda bahwa usia cermin itu mungkin jauh lebih tua daripada umur Kirana sendiri.