Gadis Kecil Dalam Cermin

Azeela Danastri
Chapter #2

Sunyi yang Berisik

Malam kedua tidak datang dengan ketenangan yang sama. 


Kirana terbangun tepat pukul dua dini hari. Tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada mimpi buruk yang mengejutkannya hingga terduduk. Matanya terbuka begitu saja, menatap langit-langit kamar yang tinggi dan gelap. Kesadaran menyergapnya secara instan, mengusir sisa-sisa kantuk dengan paksa. 


Udara di dalam kamar terasa jauh lebih dingin daripada malam sebelumnya, jenis dingin yang meresap menembus serat selimut dan menusuk pori-pori kulit.


Dia berbaring menyamping, mendengarkan.


Rumah tua ini seolah punya bahasanya sendiri di malam hari. Di siang hari, bangunan kolonial ini tampak kokoh dan mati, tetapi begitu matahari tenggelam, dia seolah bernapas. Kirana bisa mendengar derit halus dari kayu-kayu atap yang memuai karena perubahan suhu. Ada pula suara desis angin yang menyelinap di antara celah ventilasi di atas jendela besar. Semuanya adalah suara yang normal bagi sebuah rumah yang telah berdiri lebih dari setengah abad. Kirana tahu itu. 


Logikanya dengan cepat mengategorikan setiap bunyi ke dalam kotak 'penjelasan ilmiah'.


Namun, ada satu suara yang menolak untuk masuk ke dalam kotak mana pun.


Tek...tek...tek....


Suara itu sangat tipis, ritmis, dan konstan. Kedengarannya seperti ketukan kuku jari yang pendek di atas permukaan yang keras. Jarak antar ketukan begitu presisi, terjeda selama tepat dua detik sebelum terulang kembali.


Kirana menahan napas, mencoba melacak sumber suara tersebut. 


Apakah itu tetesan air dari keran kamar mandi yang bocor? 


Dia menajamkan pendengaran. 


Bukan?! 


Arah suara itu tidak datang dari sebelah kanan tempat kamar mandi berada. Suara itu berasal dari sudut kirinya.


Dari arah cermin antik.


Kirana perlahan bangkit dari posisi berbaringnya, duduk di tepi ranjang. Lantai tegel yang menyentuh telapak kaki telanjangnya terasa sedingin es, mengirimkan sensasi kejut yang membuat bulu kuduknya meremang. 


Di bawah temaram lampu tidur yang kuning suram, cermin besar di sudut ruangan itu tampak seperti sebongkah monumen hitam. Bingkai jatinya yang penuh pahatan teratai seolah meleleh ke dalam kegelapan dinding, menyisakan permukaan kaca yang berkilau samar memantulkan cahaya sisa.


Lihat selengkapnya