Gadis Kecil Dalam Cermin

Azeela Danastri
Chapter #3

Sudut Mata

"Kaca tua itu tak lagi sekadar memantulkan realitas—ia mulai menyusun gerakannya sendiri saat kita berpaling."

Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai jendela selalu berhasil membawa kembali rasa aman yang sempat hilang. Ketika Kirana terbangun pada pukul tujuh pagi, kamar kolonial itu tidak lagi terasa menekan. 


Udara dingin yang semalam terasa menusuk, kini berganti menjadi kehangatan yang akrab. Suara burung-burung gereja yang bercicit di halaman samping terdengar jauh lebih nyata daripada suara ketukan misterius beberapa jam yang lalu.


Kirana duduk di tepi ranjang, memijat pelapis keningnya yang berdenyut kaku. Efek dari tidur yang terputus-putus terasa sangat nyata pada tubuhnya; persendiannya pegal dan matanya terasa panas. Namun, begitu dia melihat lantai tegel di bawah kakinya yang bersih dan kering, rasa percaya dirinya kembali pulih.


"Halusinasi hipnagogik," ucap Kirana pada diri sendiri sambil beranjak berdiri. 


Sebagai wanita modern berpendidikan, dia tahu persis istilah medis untuk fenomena di mana otak seseorang memproyeksikan mimpi ke dunia nyata saat berada di ambang antara tidur dan terjaga. Kurang tidur kronis dikombinasikan dengan atmosfer rumah tua yang asing adalah formula sempurna untuk membuat indranya mempermainkannya.


Dia menolak untuk kalah oleh pikirannya sendiri. Hari ini adalah hari penting. Dia harus menyelesaikan analisis data kompetitor untuk proyek aplikasinya sebelum sore hari agar bisa dikirimkan ke tim pusat.


Kirana berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar, lalu menyeduh secangkir kopi hitam pekat tanpa gula di dapur kecilnya. Aroma kafein yang kuat langsung memenuhi ruangan, membawa kembali fokus dan kendali yang dia agungkan. Dengan cangkir kopi di tangan kanan, dia kembali ke kamar utama untuk mengambil dokumen kerja di atas meja.


Saat berjalan melewati cermin antik itu, Kirana sengaja tidak menoleh. Dia tidak ingin memanjakan rasa paranoianya. Namun, justru dalam keputusannya untuk mengabaikan itulah, kejanggalan itu terjadi.


Melalui sudut matanya—area penglihatan periferal yang menangkap gerakan tanpa fokus langsung—Kirana melihat bayangan dirinya di dalam cermin bergerak.


Itu adalah gerakan yang sangat halus, hampir tidak kentara. Saat Kirana sudah melangkah maju dua langkah dari cermin, bayangan di dalam kaca terasa baru saja hendak melangkahkan kaki. Seolah-olah ada jeda waktu satu milidetik, sebuah delay visual yang aneh antara tubuh aslinya dan pantulan di dalam kaca.


Kirana mendadak menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup satu kali dengan keras. Dia berdiri mematung, posisinya membelakangi cermin, sekitar satu meter di depannya. Keheningan pagi itu mendadak terasa hampa kembali.


Lihat selengkapnya