Pak Saptodjo terlihat berjalan keluar dari mobil dengan wajah tegang.
Ia segera masuk ke dalam gedung sekolah tanpa bicara sepatah kata pun. Hari itu semua murid dipulangkan, sebagian besar murid dijemput orang tuanya. Di kejauhan tampak ibu berjalan bergegas dan setelah sampai di halaman parkir sekolah, ia mencari-cari Leina. Ia melihat Leina sedang bersama seorang murid perempuan berjaket hitam dengan hoodie terpasang di kepalanya. “Leina!” panggil ibu. Leina menoleh dan menyambut ibunya. Mereka berpelukan. “Ada apa Lei? Tadi ibu mendapat telepon dari sekolah, katanya anak-anak diliburkan dan sebaiknya dijemput … trus ini ada mobil polisi juga ambulan … ada apa Lei?” tanya ibu was-was.
“Mutia Bu …” Leina tercekat tak bisa melanjutkan bicara.
“Mutia? Kenapa Mutia?” tanya ibu.
Leina terdiam menunduk, Asri menghampiri Leina dan ibunya. “Siang Tante, saya Asri,” sapa Asri memperkenalkan diri. “Hai, siang juga Asri, ada apa ini?” tanya ibu. Asri menghela nafas, “Mutia, salah satu teman kami, ditemukan gantung diri tadi Tante.”
“Ya Tuhan!” pekik ibu terkejut lalu menoleh pada Leina, “ini … ini … Mutia yang kamu ceritakan di rumah bukan?” Leina mengangguk. Ibu menutup mulutnya dengan tangannya tak sangka, kemudian memeluk Leina lagi. Leina hanya bisa diam dalam pelukan ibunya. Seorang guru terlihat keluar dari dalam gedung sekolah untuk menemui para orang tua murid yang sebagian banyak masih berada di sekolah untuk memberikan informasi bahwa sekolah diliburkan selama dua hari.
Tak lama, jenazah Mutia yang ditutupi kain, digotong keluar oleh petugas ambulan dan polisi menggunakan sebuah tandu di bawah tatapan mata para murid dan orang tuanya dengan bisikan-bisikan. Ketika tandu itu akan dimasukkan ke dalam mobil ambulan, tangan kanan Mutia jatuh terjulur keluar dari kain yang menutupinya. Leina melihat dan memperhatikannya. Ia terdiam, ia merasa ada yang hilang dari pergelangan tangan kanan saudara perempuannya itu.
Mobil ambulan pun pergi membawa jenazah Mutia diikuti sebuah mobil polisi.
Leina hanya diam terpaku.