Setelah berjalan bersama dari pemakaman, mereka pun berpisah.
“Baiklah Lei, Tante … kita pisah di sini …” ucap Asri. “Ga mampir ke rumah dulu Sri?” tawar ibu. Asri menggeleng dan tersenyum, “Mama sudah nunggu saya Tante.” Ibu pun tak bisa memaksa. “Lei, sampai ketemu nanti di sekolah,” sahut Asri. Leina mengangguk. Asri pun berjalan meninggalkan ibu dan Leina. “Anak itu ramah dan manis ya, sepertinya dia cocok kalau kamu jadikan sahabat Lei,” ujar ibu. “Tapi dia beda,” tanggap Leina. “Beda apanya?” tanya ibu dengan kerut di kening. “Dia anak orang kaya,” jawab Leina pendek.
“Loh apa hubungannya? Sepenglihatan Ibu, dia baik sama kamu, itu yang penting Lei,” terang ibu. “Dia tidak seperti Mutia,” gumam Leina. Ibu tersenyum, “Tentu saja beda … setiap teman punya karakternya masing-masing Lei … kamu harus bisa menerima itu, selama mereka baik sama kamu, bertemanlah.” Leina terdiam. Rasanya ibu benar, setelah kepergian Mutia, dirinya tidak memiliki teman lagi, kecuali Asri yang sejak hari pertama sekolah sudah mau menjadi temannya, meski ia tidak terlalu menyukainya.
“Memang apa sih yang membuat kamu tidak terlalu menyukai Asri?” tanya ibu seakan mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Leina. Leina mengangkat bahunya. Ibu tertawa, “Kalau kamu ga tau, gimana kamu bisa tau kalau dia bukan teman yang baik? Coba beri dia kesempatan … Ibu yakin dia bisa jadi teman sebaik Mutia.”
Leina hanya diam saja.
***
Malam itu Leina mengambil peralatan gambarnya.
Ia duduk di depan meja belajarnya, mulai mencoret-coret di atas kertas gambar. Berlembar-lembar kertas yang telah digambari itu disingkirkannya dari meja, dibiarkannya melayang jatuh ke atas lantai, karena ia tak puas. Leina mengambil kertas gambar baru dan menggambar lagi. Kini rasa sakit, marah dan ketidakmengertian akan prilaku manusia menjadi dasar coretan-coretannya.
Mengapa manusia harus pergi?
Mengapa hidup harus sesakit ini?
Mengapa orang harus menghina orang lain?
Jam demi jam berlalu. Leina tidak berhenti menggambar. Alat tulisnya terus bergerak cepat penuh emosi. Belum pernah ia menggambar seemosi ini. Leina terus menggambar, terus mencoret-coret, terus menarik garis halus juga kasar, terus mengarsir, terus dan terus hingga akhirnya ujung pinsilnya patah! Membuat Leina terkulai di atas mejanya.
Pipinya menempel pada kertas yang telah selesai digambarinya itu dan beberapa saat kemudian air dari ujung matanya mengalir jatuh membasahi gambar. Leina membiarkannya. Air mata itu membasahi sebuah gambar hitam putih tentang seorang anak perempuan yang tergantung di bawah bulan purnama dengan wajah tersenyum menyambut malaikat-malaikat yang menjemputnya, berlatar belakang siluet gedung sekolah dengan lantai yang bersimbah darah dari bangkai orang-orang yang menghinanya.
Tanpa menarik pipinya dari kertas gambar, jemarinya meraih sebuah amplop putih bertuliskan namanya. Leina memperhatikan amplop surat itu, membolak-balik tanpa membukanya. Leina teringat saat dirinya dan Mutia berbagi cerita di rumah panti. Saat itu Leina menunjukkan foto kenangan satu-satunya antara dirinya dan ayahnya. Foto yang diambil saat ia masih di taman kanak-kanak. Leina berkata pada Mutia kalau suatu hari nanti ia akan berkumpul lagi dengan ayahnya seperti dulu. Mutia tersenyum menyemangati Leina. Ternyata senyum Mutia yang lebar hari itu adalah senyum terakhirnya yang bisa dilihat Leina.