“Heh, bangun … bangun!” ketus Leina.
Merasakan tubuhnya ditendang-tendang, Tomi menggeliat lalu mengucek-ngucek matanya dan menyipitkan matanya menatap Leina. “Hoaeem … ada apa hah?” tanyanya masih mengantuk bercampur mabuk. “Di mana alamat Ayah saya, kasih tau cepat,” desak Leina. Tomi nyengir lalu memonyongkan bibirnya, “Cium dulu.” Leina tak menanggapi ia hanya menatap tajam tanpa bicara. “Akhirnya kau butuh aku juga hehehe,” cengir Tomi. “Cepat!” tukas Leina gelisah. Tomi mengatakan sebuah alamat. “Ini ga bohong ‘kan?” ragu Leina. “Buktikan saja sendiri … tapi kalau aku benar, kau pijit aku malam ini ya!” tandas Tomi. “Najis!” ketus Leina lalu berjalan cepat keluar rumah.
Tak lama kemudian.
Ibu keluar dari kamar setelah mandi dan berganti pakaian. “Lei … Leina bangun … sudah siang!” panggil ibu sambil mengetuk pintu kamar. Ditunggu tak ada jawaban ibu membuka pintu kamar Leina dan terkejut kamar itu kosong. Ia segera menghampiri suaminya yang telah kembali meringkuk di sofa depan televisi. “Tom! Tomi bangun!” panggil ibu mengguncang-guncang tubuh pria itu. “Hhhhh! Ada apa lagi sih?” tukas Tomi menggeliat malas. “Kau tahu kemana Leina?” tanya ibu cemas. “Sekolah,” jawabnya singkat. “Heh, hari ini sekolah dia libur, cepat katakan kemana dia?” tanya ibu lagi gelisah.
“Nyari ayahnya,” jawab Tomi santai lalu menggaruk-garuk pantatnya. Ibu terkejut dan mengumpat kesal, “Brengsek kau Tom!” lalu ibu bergegas keluar rumah. “Hey, kau yang brengsek,” balas Tomi sebelum ibu menutup pintu.
***
Leina menghapal alamat yang diberikan oleh Tomi tadi.
Dengan uang jajan yang selama ini disimpannya, ia memakai taksi lalu minta diantar ke alamat tersebut. Selama dalam perjalanan, hati Leina berdebar-debar. Sudah lama sekali ia tidak bertemu ayahnya. Terakhir sejak ia masih di taman kanak-kanak. Hatinya senang, rasa rindunya yang disimpannya selama bertahun-tahun bisa diledakkannya saat bertemu ayahnya nanti. Leina duduk gelisah. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana bila telah bertemu ayahnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa saat berhadapan dengan ayahnya.