“A … apa yang Ayah maksud?” tanya Leina gemetar.
Pria itu memberi tanda pada istrinya untuk masuk ke dalam rumah bersama bayinya. Setelah itu ia mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu rupiah. Ia menyodorkannya pada Leina, “Ambil ini dan pergi dari sini!” Tubuh Leina lemas seketika, semua kebahagiaan yang ada dalam hatinya musnah begitu saja, semua penantian selama bertahun-tahun itu terasa sia-sia belaka.
“Aku … tidak mau uang,” geleng Leina dengan hati yang bergemuruh luruh.
“Lalu apa yang kamu mau heh? Kamu kesini disuruh si Linda bukan?!”
“Tidak ada yang menyuruhku … aku hanya ingin bertemu Ayah,” lirih Leina.
“Hah? Apa kamu bilang? Ingin bertemu aku? Ayahmu? Hahaha … apa Linda ga cerita sama kamu? Kamu pikir aku Ayahmu? Hahaha … coba tanyakan lagi sama ibumu itu … sudah berapa banyak laki-laki jadi teman tidurnya! Karena itu dia saya ceraikan! Dan kamu … kamu ga tau anak siapa … apakah dari saya atau bisa jadi dari si Edi … atau dari si Tomi … atau campur dari kita semua? Entahlah … tanya saja sama ibumu yang sundal itu!” ungkap Frans berapi-api.
Kaki Leina lemas rasanya, ia sudah tak kuat berdiri karena tidak menduga dengan apa yang dikatakan pria yang diharapkan menjadi ayahnya itu, tetapi ia menguatkan dirinya. Leina menunjukkan foto yang selalu dibawa-bawanya pada pria itu.
“Kalau begitu ini apa? Apakah ini kenangan terindahku?” tanya Leina.
Frans melihat foto itu sesaat lalu tertawa, “Hahaha ya aku ingat foto itu … ibumu datang padaku, saat kita mau cerai … dia memohon-mohon agar aku mau berfoto denganmu untuk sekali saja … awalnya aku tidak mau … tapi karena kamu menangis terus, dari pada berisik, ya sudah aku bersedia di foto.”