Dua hari setelah kematian Mutia.
Murid-murid telah masuk kembali. Guru-guru telah kembali mengajar. Semua telah kembali sama seperti semula hanya yang membedakan hanyalah pita kuning hitam milik polisi masih tampak melingkari lokasi kejadian di depan ruang kepala sekolah. “Lihat … tampaknya semua orang sudah move on … betapa cepatnya orang melupakan orang yang sudah mati,” sinis Asri melihat sekeliling sekolahnya yang telah kembali ramai. Leina tidak menanggapi, ia sedang memperhatikan sosok anak perempuan berbaju hitam yang tengah berdiri di tempat Mutia menggantung dirinya. Sosok itu berjalan pelan mondar-mandir dengan kepala menunduk.
Sedang apa dia? Tanya hati Leina. Sosok anak perempuan berbaju hitam itu lalu berdiri mematung dengan kepala tetap menunduk hanya matanya mendelik pada Leina dari balik bulir rambut yang menutupi wajahnya. Hati Leina gentar ditatap seperti itu. Tiba-tiba lantai ubin di depan ruang kepala sekolah itu mendadak menjadi basah dan berwarna merah. Sosok itu menunjuk pada sebuah tubuh yang berayun-ayun tergantung di sebelahnya. Leina terkejut karena tadi tubuh itu tidak ada. Ia melihat pada wajah orang yang tergantung itu, ternyata Mutia dengan tangannya menunjuk pada ruangan kepala sekolah.
“Tidak …” gumam Leina menggeleng lalu mengusap wajahnya.
“Ada apa Lei?” tanya Asri di samping Leina. “Ga … ga apa-apa,” jawab Leina bergegas membawa tasnya. “Lei, mau kemana? Kita masih ada satu pelajaran terakhir!” seru Asri. Leina tidak mendengarkan, ia terus berjalan keluar gerbang sekolah. Dari kejauhan Anton melihat Leina yang sedang berjalan tergesa-gesa itu. “Gaes, gue duluan … kalian lanjut aja,” cetus Anton pada teman-temannya yang akan bermain basket. Ia meraih tas ranselnya dan diam-diam mengikuti Leina.
Leina berjalan melewati rumah-rumah lalu berbelok melintasi lapangan tanah, menembus lapangan rumput liar bercampur ilalang yang bergoyang-goyang ditiup angin, kemudian melompat turun ke sebuah saluran pembuangan air yang lebar dan panjang. Sedang Anton menghentikan langkahnya dulu, ia tak mungkin ikut melompat, karena Leina pasti akan mengetahuinya. Ia mengintip Leina yang sedang menyusuri saluran pembuangan air itu, menunggu, hingga Leina sampai di ujung sana dan menghilang di balik semak.
Setelah Anton memastikan Leina tak kelihatan lagi, ia pun segera melompat turun ke saluran pembuangan air. Berlari kecil menyusurinya lalu di ujung saluran yang berbelok, ia merayap naik. Anton diam sebentar di depan semak-semak, ragu tapi karena rasa penasaran mendorongnya, akhirnya ia menerobos semak-semak tersebut hingga dilihatnya sebuah lubang di tembok. Anton mengerutkan keningnya seraya melangkah masuk melalui lubang itu dan terkejut setengah mati ketika melihat di depannya terdapat hamparan kuburan yang berjajar. Bulu tengkuknya merinding tapi ia memberanikan diri.