“Ini rumah lo?” tanya Anton.
Leina mengangguk. “Baiklah kalau gitu … salam buat orang tua lo … gue pulang dulu,” pamit Anton lalu berjalan. “Mmm … Kak …” panggil Leina. Anton membalikkan badannya, “Ada apa Lei?” Leina meremas-remas tangannya, mencoba mengalahkan kegugupannya untuk bicara seperti yang pernah Asri ajarkan padanya, untuk berbasa-basi, “Sampai … ketemu … besok Kak.” Anton tersenyum. “Ok, sampai ketemu besok juga Leina!” balasnya seraya melambaikan tangan. Setelah Anton berlalu Leina pun masuk ke dalam rumah. Dari kejauhan, tampak Asri tengah memperhatikan mereka dengan jaket hoodie hitamnya kemudian berjalan menjauh.
Leina menutup pintu rumahnya, dan melihat ibu sedang menatapnya dengan senyum-senyum. Leina mengerutkan kening tak mengerti, terus berjalan melewati ibunya. “Eh, eh maen lewat aja …” ujar ibu seraya menarik tangan Leina, “cerita dulu dong sama Ibu … tadi itu siapa yang nganterin kamu?” Kedua alis ibu terangkat-angkat. Leina menggelengkan kepala lalu menepis tangan ibu, kembali berjalan menuju kamarnya. “Itu pacar kamu ya?” bisik ibu dengan nada suara menggoda. “Ayo dong cerita sama Ibu, Lei, cerita dong …” rengek ibu mengikuti putrinya masuk ke dalam kamar.
“Bukan Bu … dia kakak kelasku,” jelas Leina meletakkan tasnya. “Tapi kamu suka ‘kaaaan,” goda ibu lagi. Leina mengangkat kedua bahunya. “Namanya siapa?” tanya ibu. “Kak Anton,” jawab Leina. “Hmm, nama yang cakep … sama kayak orangnya,” ujar ibu. Leina hanya diam saja. “Tapi Lei … menurut Ibu … kayaknya dia juga suka sama kamu loh … karena kalau ga … dia ga akan mau nganterin kamu pulang,” lanjut ibu. “Pulangnya searah jadi sekalian,” bantah Leina. “Yah emang kamu yakin kalau rumahnya searah? Bisa aja dia bilang gitu cuma karena mau nganter kamu aja …” balas ibu. “Gimana Ibu aja deh,” sahut Leina seraya berganti baju. Ibu tertawa.
“Pesan Ibu, kalau kalian mau berhubungan seks, pake kondom,” bisik ibu. “Bu! Apaan sih!” seru Leina terkejut dan melotot. Ibu tertawa lagi sambil keluar kamar. Leina geleng-geleng lalu menutup pintu kamarnya. Leina duduk di kursi meja belajarnya, dalam hatinya ia merasa senang dengan apa yang terjadi di hari ini. Ia tidak pernah menduganya kalau ia bisa pulang bersama pria yang membuat hatinya berdebar-debar sejak kemarin. Leina menarik nafas dalam-dalam lalu menghela nafasnya dengan panjang. Inikah yang disebut jatuh cinta? Leina menggelengkan kepala. Tidak mungkin, tidak mungkin.
Hampir seumur hidupnya, Leina dirundung. Hampir seumur hidupnya tidak ada teman yang menyukainya. Hingga membuat Leina mempercayai apa yang dikatakan oleh para perundungnya itu adalah benar. Kalau ia tidak pantas untuk dicintai, kalau ia tidak cantik, kalau ia aneh. Leina menerima semua perundungan itu serta menjadikannya sebagai sesuatu yang normal. Ia sudah terbiasa tapi bila ada yang menyukainya Leina malah kebingungan. Seperti halnya saat ini. Akhirnya Leina memutuskan untuk tidak memikirkan hal ini yang malah memubuatnya sakit kepala. Ia memilih untuk tidur saja.