Leina berlari masuk ke dalam rumah, menuju kamarnya dan menutup pintunya.
Ibu yang sedang berada di dapur terkejut, “Lei? Leina apakah itu kamu?” Tak ada jawaban. Ibu menghampiri kamar Leina mengetuk pintunya. “Lei, kamu sudah pulang sekolah?” Terdengar jawaban dari dalam kamar, “Iya Bu.” Ibu menghela nafas lega, “Syukurlah tadinya Ibu mau menjemput kamu ke sekolah karena mendung gelap seperti ini.” Kemudian ibu kembali ke dapur, menyalakan rokoknya, menatap surat tagihan-tagihan di atas meja yang belum dibayar. Ibu pun kesal sendiri mengacak-ngacak rambutnya.
Sementara itu di dalam kamar, Leina menggigil dan meringkuk di balik selimut. Ia bisa merasakan sosok anak perempuan berbaju hitam itu yang semakin dekat dengannya. Ia bisa merasakan hembus nafasnya tak lagi hanya mendengar suaranya. Ia bisa merasakan dinginnya sentuhan jemarinya tak hanya melihatnya.
Tetiba, petir menyala keras juga terang hingga Leina bisa melihat sosok anak perempuan berbaju hitam itu ternyata sudah berada di belakang pintu kamarnya! Berjongkok diam dengan kepala menunduk. Leina terpekik melihat penampakan itu dan dengan cepat menarik selimut hingga menutupi wajahnya. “Tidak mungkin, ini tidak mungkin,” gumam bibir Leina yang gemetar.
Dari balik selimut, Leina bisa mendengar telapak kaki yang melangkah mendekatinya. Leina semakin meringkuk tak berani bergerak di dalam selimut. Petir menyala terang kali ini tanpa suara. Mata Leina melirik, dari balik selimutnya ia bisa melihat bayang-bayang sebuah sosok telah berdiri di samping tempat tidurnya. Degup jantungnya cepat, nafasnya menderu. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pundaknya dari luar selimut sambil memanggil namanya, “Leina!” Leina pun menjerit ketakutan, “Aaaahhhhhh!” Dengan cepat selimut ditarik keras, Leina memejamkan matanya. “Kamu kenapa Lei?” seru ibu panik. Leina memicingkan matanya dan melihat ibu telah berdiri di samping tempat tidurnya sambil memegang selimutnya.
“Ibu?” tanya Leina memastikan.
“Iya ini Ibu … masa setan sih!” tukas ibu.
“Ta … tapi tadi bukan Ibu, ada sosok ---”