Asri terlihat duduk sendiri di ujung lapangan, jauh dari keramaian.
Leina menghampirinya, menawarkan bekal makanannya. “Tumben nawarin …” lontar Asri acuh tak acuh, “gue ga lapar.” Leina meletakkan kotak bekalnya itu lalu mengambil sepotong roti. “Gue ga percaya lo masih nyamperin gue setelah kemarin lo pergi ninggalin gue,” sindir Asri. Leina terdiam. “Lo tau ga setelah lo pergi itu gue didatengin Reni sama temen-temennya? Lo ga tau ‘kan? Trus lo tau ga kalau mereka nyuruh gue buat jalan merangkak?” tanya Asri kesal. Leina masih diam.
“Kalau waktu itu lo ada … mungkin kita bisa ngelawan mereka bareng Lei!” lanjut Asri geram. Leina meletakkan kembali rotinya ke kotak bekal tidak jadi memakannya. “Ga mungkin Sri … gue mana berani …” lirih Leina. Asri menatap Leina, “Lei … sebenernya kita ini temenan ga sih?” Tak ada jawaban. “Lo ga jawab … berarti kita ga temenan,” tandas Asri berdiri dari duduknya dan melangkah pergi tapi Leina dengan cepat menarik jaket Asri membuatnya tak bisa melangkah. “Kita temenan Sri,” ucap Leina.
“Tapi gue merasa, cuma gue yang peduli sama lo tapi lo ga peduli sama gue,” tukas Asri menepis tangan Leina dari jaketnya. Ia pun berjalan menjauh. Leina termangu. Ketika jam istirahat selesai dan pelajaran dimulai lagi, Asri sudah pindah duduk tidak lagi berada di sebelah meja Leina. Ia telah pindah duduk jauh dari Leina meski tetap duduk sendiri karena tidak ada murid yang mau duduk bersamanya. Tak jauh berbeda dengan Asri, Leina pun duduk sendiri di barisan paling belakang.
Begitu bel pulang sekolah berbunyi. Asri bergegas keluar kelas dengan hoodie di kepalanya dan tidak seperti biasanya ia tidak mengajak Leina untuk pulang bersamanya. Leina hanya bisa menatap Asri keluar kelas lalu mendengar suara-suara sorakan yang mencemooh mengiringi sepanjang langkah Asri. Leina masih duduk di dalam kelas, tercenung, kini Asri tidak mau bicara dengannya lagi. Sekarang Leina benar-benar sendiri. Leina melangkah keluar kelas setelah tak terdengar lagi ramai suara murid. Meski masih terlihat satu dua murid yang sedang ngobrol di depan pintu kelas tetapi mereka mengacuhkan Leina.
Tak jauh dari pintu keluar, Leina menghentikan langkahnya ketika melihat Reni dan teman-temannya tengah berkumpul di situ. Tidak ingin menjadi bulan-bulanan Reni maka Leina membelokkan langkahnya menuju ruangan tata usaha dan memutuskan untuk menunggu di situ hingga Reni dan teman-temannya pulang lebih dulu.