“Pak, kalau gitu kita pulang dulu,” sahut Reni dan teman-temannya.
Pak Saptodjo berhenti di pintu lalu menyodorkan tangan pada Reni dan teman-temannya untuk dicium tangannya. Saat itulah Leina melihat dan menemukan sebuah celah untuk bersembunyi. Maka dengan cepat ia berkelebat tanpa suara, bersembunyi di balik lemari besar yang berada tepat di belakang meja kerja Pak Saptodjo. Leina bersyukur memiliki tubuh kecil hingga ia bisa menyelipkan dirinya di celah lemari besar itu. Pak Saptodjo menutup pintunya lalu berjalan ke meja kerjanya. Menyalakan komputernya seraya duduk di kursi kerjanya yang empuk.
Dari belakang, Leina bisa melihat layar monitor itu menyala yang kemudian menampakkan gambar wallpaper sebuah rumah ibadah. Pak Saptodjo berdehem sebelum meneguk minuman sodanya. Setelah meletakkan kaleng soda itu di meja, ia mengusap-ngusap perut buncitnya seraya jemarinya menggerakkan mouse. Terdengar suara klik dua kali pada mouse dan layar monitor menampilkan sebuah film. Pak Saptodjo menghilangkan suara film tersebut hingga tampak seperti film bisu. Leina memperhatikan film itu. Awalnya menampilkan sepasang pria dan wanita sedang bicara dan tak lama mereka membuka pakaian sehingga tidak ada sehelai pakaian pun yang menempel di tubuh mereka, kemudian mereka melakukan adegan dewasa. Leina terkejut dan tak menyangka ternyata Pak Saptodjo sedang menonton film biru!
Terlihat duduk Pak Saptodjo menjadi gelisah, kepalanya menengok ke kanan ke kiri. Ia berdiri dari kursinya menuju jendela lalu menutup gordennya kemudian kembali duduk. Tangannya dengan cepat membuka retsleting celana dan masuk ke balik celananya lalu bergerak-gerak sambil menonton dan bersandar di kursinya yang empuk.
Leina segera memejamkan matanya. Ia hanya bisa mendengar suara deru nafas Pak Saptodjo yang terengah-engah pelan. Menit berlalu, Leina sudah tak sabar dan gelisah ingin segera keluar dari ruangan itu. Hingga terdengar ketukan di pintu membuat Pak Saptodjo terkejut bukan main. Ia segera mengambil tisu basah dari dalam lacinya. “Assalamualaikum Pak,” salam Pak Asep dari luar pintu, “Bapak ada di dalamkah?”
Pak Saptodjo tergesa membersihkan tangan dan segera menutup kembali retsleting celananya. “Waalaikumsalam, iya, iya sebentar Pak Asep!” sahutnya sembari mematikan film tersebut dan menggantinya dengan gambar wallpaper semula di layar monitornya. Ia lalu mengambil sebuah map dan membukanya, berpura-pura membacanya lalu memanggil, “Silahkan masuk Pak Asep.” Pintu terbuka dan menyembul wajah Pak Asep dari balik pintu. “Maaf menganggu kesibukan Bapak … hanya mau memberi tahu kalau di parkiran taksinya sudah datang,” ujar Pak Asep.
“Taksi?” tanya Pak Saptodjo yang nampaknya masih bingung dan kaget. “Loh ‘kan tadi Bapak yang minta dipesankan taksi untuk ke Disdik siang ini,” ujar Pak Asep mengingatkan. Pak Saptodjo menepuk jidatnya, “Oh iya! Ya ampun makin tua makin lupaan saya.” Pak Asep tersenyum. Pak Saptodjo segera merapikan berkasnya memasukkannya pada tas dan sebelum pergi ia mematikan komputernya lalu bergegas keluar ruangan dengan mengunci pintunya. Leina memaki kesal dalam hati melihat pintu itu dikunci dari luar.