Gadis Kecil Dari Neraka

ken fauzy
Chapter #31

BAB 31. RAHASIA ASRI

Keesokan harinya.

“Sri … gue mau ngomong,” kata Leina pada Asri tapi Asri tidak mengindahkan Leina. Ia terus berjalan keluar kelas. Beberapa murid laki-laki menyoraki mereka ketika mereka berjalan di lorong gedung, bahkan melempari mereka dengan berbagai kertas tetapi Leina dan Asri sudah tidak mempedulikan lagi. Hal itu sudah membuat mereka terbiasa dan tak kaget lagi. Mereka terus berjalan diiringi sorakan juga ledekan di bawah kertas-kertas yang berhamburan.

“Sri! Sebaiknya lo menghindari Reni … kemarin gue denger dia nanyain alamat lo di tata usaha,” kata Leina. Asri menghentikan langkahnya, menatap Leina, “Sejak kapan lo peduli?” Leina menjawab, “Sejak lo peduli sama gue di hari pertama gue masuk sekolah.” Asri menatap Leina. “Really?” sinisnya lalu melangkah lagi. Leina menyusulnya. “Sri, gue tau apa yang terjadi pada Mutia” bisik Leina. “Hih! Lo tu ga paham soal perasaan kalau orang lagi sebel sama lo ya?” tukas Asri. “Itu ‘kan kemarin, memang sekarang masih sebel?” tanya Leina. Asri menatap Leina seakan tak percaya dan berkata, “Lo itu bener-bener polos atau ga peka sih?”

Baru melanjutkan beberapa langkah tiba-tiba Reni dan teman-temannya muncul. “Mau kemana lo sekarang!?” seru Reni mengagetkan. “Sekali tepuk dua manusia aneh kena! Hahaha,” timpal temannya. Leina terdiam, ia tak bisa lari kemana-mana karena Reni dan teman-temannya sudah mengepung mereka. Hal ini membuat murid-murid yang belum pulang sekolah berkumpul mengerubungi mereka karena ingin melihat apa yang akan terjadi berikutnya.

“Heh Penyembah Setan, apa yang pernah gue bilang sama lo?” cetus Reni pada Leina. Leina tidak menjawabnya. “Gue ingetin … kalau ketemu gue, lo harus jalan merangkak! Inget?!” sentak Reni di telinga Leina. “Ini bukan ketemu tapi sengaja dicegat,” ucap Leina. “Eh udah berani ngejawab lo ya?” tukas salah satu dari teman Reni tepat di depan wajah Leina. Leina menunduk tak berani. “Cepet merangkak! Lo juga!” teriak Reni menunjuk Asri. Asri menggeleng, “Kak, saya ‘kan kemarin sudah.”

“Kemarin sama sekarang beda!” hardik Reni.

Asri dan Leina bergeming. “Adik kelas sekarang pada bangsat ya? Pada ga bisa nurut ya?” kesal salah satu teman Reni menarik hoodie jaket yang dipakai Asri hingga terbuka. Semua murid yang mengerubungi mereka menjadi terkejut melihat rambut Asri. “Tuh lihat semuanya, Makhluk Berambut Kusut ini mewarnai rambutnya padahal sudah jelas aturan di sekolah kita, tidak boleh mewarnai rambut bukan?” seru Reni pada murid-murid yang menonton mereka. Asri hanya menunduk terdiam. “Ajarin dia nyisir rambut Ren biar ga kusut!” celetuk seorang murid laki-laki. Reni mengangguk-ngangguk, “Betul juga! Ada yang punya sisir?”

Mendengar itu Asri menggeleng-geleng, “Jangan Kak … jangan.” Ia berusaha memakai hoodie jaketnya lagi tetapi teman-teman Asri memegangi tangannya. Seorang murid perempuan memberikan sisirnya pada Reni. “Nah, sini gue ajarin lo nyisir, biar rambut lo ga kayak orang gila,” ejek Asri sembari menunjukkan sisir itu di depan wajah Asri. Asri meronta-ronta tetapi teman-teman Reni memeganginya dengan lebih kuat. “Jangan Kak … jangan,” pinta Asri dengan air mata menetes.

Lihat selengkapnya