Di dalam kamarnya malam itu, Leina memendam amarah yang dalam.
Siang tadi adalah sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya. Dengung kata-kata “sampah, sampah” masih terdengar di telinganya. Bergolak hati Leina harus merangkak hingga pintu keluar dan tidak ada satu pun guru yang melarang atau menolongnya. Beberapa guru yang sempat menyaksikan keramaian itu hanya melihat sekilas lalu pergi. Seperti tindakan itu adalah hal yang biasa. Leina menggeram marah tak mengerti, mengapa tindakan seperti itu bisa dianggap biasa? Apakah sekolahnya tidak berdaya melawan murid-murid seperti Reni? Tidak berhenti di situ, Reni dan teman-temannya terus mencemooh dirinya dan Asri dengan melontarkan berbagai kata;
“Mental aman Dek?”
“Kena mental ‘kan? Hahaha.”
“Jangan baper ya!”
Dan puluhan kalimat cemooh lainnya. Kalimat-kalimat buruk yang menggambarkan arogansi dari seorang yang sok lebih kuasa dibanding orang lain. Leina muak dengan itu semua.
Sepanjang berjalan pulang Asri pun hanya diam tadi. Mereka tidak saling bertegur satu sama lain. Sebetulnya banyak yang ingin Leina tanyakan tapi Asri tidak memberikan kesempatan pada Leina untuk bisa bicara. Ia bahkan tidak menganggap Leina ada, ia hanya berjalan cepat dengan sesekali mengusap air matanya. Akhirnya, Leina pun hanya bisa memandangi Asri yang pisah jalan itu.
Kini Leina mencoret-coret kertas gambarnya dengan berapi-api. Ia meluapkan semua perasaan marahnya. Tanpa disadarinya dua bola mata hitam muncul di pojok kamar, memperhatikan Leina yang tengah serius menggambar. Beberapa saat kemudian gambar itu pun selesai. Sebuah gambar yang menunjukkan seorang murid perempuan dengan mulut yang robek berlumuran darah. Setelah itu gambarnya ia tusuk-tusuk dengan ujung pinsilnya hingga kertasnya sobek.
Dua mata saya, memperhatikanmu.
Leina mendengar bisikan suara itu. Ia terdiam meletakkan kertas gambarnya yang bolong kemudian berdiri dari kursinya. Leina berdiri di tengah kamarnya, berkata tanpa takut lagi, “Saya bisa mendengarmu! Saya bisa melihatmu! Bahkan kamu bisa menyentuh saya! Sekarang keluarlah!” Tidak ada tanggapan, hanya hening di dalam kamarnya. “Saya tahu kamu ada di sini!” sambung Leina, “apa maumu?!”
Dua kaki saya, tanpa sepatu baru.
Leina menoleh pada pojok kamarnya di belakang pintu. “Saya tahu kamu ada di situ! Keluarlah … keluar!!” teriak Leina. “Leina!” seru ibu seraya menggedor pintu kamar. Leina terkejut dan membuka pintunya. “Kamu teriak sama siapa Lei?” cemas ibu menatap Leina. Leina hanya diam. Ibu memeriksa dahi Leina. Leina menepiskan tangan ibu, “Aku tidak sakit Bu.”
“Syukurlah, Ibu khawatir kamu demam sehingga meracau,” terang ibu. “Ada apa Ibu kesini?” tanya Leina. Ibu mengusap-ngusap bahu Leina seraya menatapnya. Leina mengerutkan kening, hatinya mendadak jadi tak enak.