Gadis Kecil Dari Neraka

ken fauzy
Chapter #33

BAB 33. CERITA ASRI

Guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, tapi Leina tidak memperhatikannya. Ia malah memandangi kursi dan meja kosong tempat Asri biasa duduk. Pada saat jam istirahat Leina memakan bekalnya di ujung lapangan sendiri. Ia melirik rumput di mana Asri biasa duduk bersila di atasnya dengan jaket hitam dan hoodie yang selalu menempel di kepalanya, berceloteh apa saja dan ketika bel pulang sekolah berbunyi, tidak ada lagi yang mengajaknya untuk pulang bersama. Semua terasa sepi. Leina melangkahkan kaki sepulang sekolah dan saat sampai pada jalan pisah itu Leina berkata sendiri, “Sampai ketemu besok Sri,” lalu melanjutkan langkahnya lagi. Kini Leina bisa merasakan betapa kehadiran Asri ternyata berarti bagi dirinya. Kadang kita baru menyadari betapa berartinya seseorang itu bila sudah tidak ada.

Siang itu Leina berjalan menuju rumah Asri. Ia masih ingat alamat rumah Asri yang disebutkan oleh Pak Asep saat Reni bertanya dulu. Ia terus berjalan melewati rumah-rumah mewah dengan jalanan kompleknya yang mulus tetapi ia tidak menemukan nama jalan rumah Asri tersebut. Setelah mencari, barulah Leina melihat papan nama jalan rumah Asri itu.

Leina mengerutkan kening, karena jalan rumah Asri itu bukanlah bagian dari jalan komplek perumahan mewah yang mulus, melainkan hanya sebuah jalan kecil yang dihimpit rumah besar di kanan kirinya. Sebuah jalan yang hanya bisa dilalui dua motor berpapasan. Jalannya masih terbuat dari tanah merah. Leina mengikuti jalan himpit itu hingga sampai di ujungnya. Maka tampaklah sebuah perkampungan yang padat penduduk. Bukan perumahan mewah hanya rumah-rumah biasa pada umumnya, sama seperti perkampungannya.

Leina mencari rumah Asri dan menemukannya. Di halamannya terdapat pohon tua besar yang ditumbuhi rumput liar. Pagarnya dari kayu-kayu yang sudah lapuk nyaris roboh. Terasnya kotor, begitu pun dinding rumahnya dipenuhi lembab serta cat yang mengelupas di sana-sini. Kaca-kaca jendelanya kusam. Leina hanya berdiri diam, pikirannya melambung pada Asri, kenapa Asri membohonginya?

Tiba-tiba dari dalam rumah muncul seorang pria berusia empat puluh tahunan berjalan membawa tongkat kayu menghampiri Leina sambil berteriak marah, “Heh! Lagi ngapain lo di situ? Mau ngaduin gue ke polisi lagi hah?” Ia pun mengangkat tongkat kayunya siap dipukulkan.

Leina terkejut dan mundur beberapa langkah. Teriakan pria itu membuat beberapa warga keluar dari rumah memperhatikan. Di bawah tatapan para tetangga, pria itu menurunkan tongkat kayunya. “Pergi lo dari sini! Jangan ikut campur urusan keluarga orang! Pergi!” hardiknya. Seseorang menarik Leina dari belakang. Leina terkejut. “Leina, ngapain di sini?” tanya Pak Asep. Leina diam tak menjawab tapi matanya terus menatap pada pria itu. Pria yang memukuli sahabatnya.

“Heh Sep, bawa anak itu pergi dari sini atau dia gue bikin bonyok juga!” ancam pria itu. Pak Asep geleng-geleng, lalu mengecam, “Anda tahu anak Anda di rumah sakit akibat perbuatan Anda? Bahkan Anda tidak mau menengoknya? Sekarang Anda mengancam mau melukai anak orang lain? Ckckck … Anda memang keterlaluan.”

Pria itu bertolak pinggang, berkata, “Eh siapa yang nyuruh anak gue dibawa ke rumah sakit, siapa? Bukan gue! Bukan istri gue! Jadi ngapain gue kesana? Kalian yang ngebawa, ya kalianlah yang bertanggung jawab! Lagian gue ga ngapa-ngapain anak gue kok! Luka-luka itu akibat perbuatan dia sendiri!”

 “Anda boleh lepas dari polisi, karena tidak cukup bukti … tapi kami, warga sini tau, apa yang Anda dan istri Anda lakukan terhadap Asri,” balas Pak Asep. “Lo tu cari perkara banget ya Sep … pake ngurusin rumah tangga gue! Sekarang gara-gara lo, gue dan istri ga bisa ketemu si Asri! … Gara-gara lo sok jadi pahlawan kesiangan, gue ga bisa ketemu anak gue!” marah pria itu.

“Bagus … lebih baik seperti itu … Asri layak mendapat orang tua yang lebih baik!” sinis Pak Asep . “Hah! Anjing kau Sep! Awas kau nanti!” bentaknya lalu pergi berbalik masuk kembali ke dalam rumahnya sembari membanting pintu dengan keras. Semua tetangga menggelengkan kepala. Pak Asep mengajak Leina menjauh dari rumah itu. “Sedang apa di sini Lei? Bapak pikir sepulang sekolah kamu menemani Asri di rumah sakit?” tanya Pak Asep. Leina mengangguk, “Iya, tadinya mau kesana tapi menunggu Ibu pulang kerja dulu … aku hanya ingin tahu rumah Asri.”

Pak Asep menghela nafas, “Sebaiknya jangan kesini lagi … orang tua Asri ya seperti itu … temperamental dan kasar luar biasa … Bapak khawatir kalau kamu kesini lagi, dan ga ada Bapak atau tetangga ga ada yang lihat, kamu bisa terluka … karena dia sama anak sendiri aja tega Lei, apalagi bukan sama anaknya.” Leina mengangguk. “Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu pulang atau tengok Asri sebentar ya … kasihan dia ga punya siapa-siapa … Bapak kesananya nanti malam untuk jaga di sana.”

Leina mengangguk, “Baik Pak,” kemudian Leina berjalan pergi.    

 

***

 

Leina telah berada di rumah sakit diantar ibu.

Mereka memandangi Asri yang belum sadarkan diri dari balik jendela kaca itu. “Baiklah Lei … Ibu tinggal dulu ya nanti malam sepulang kerja Ibu jemput kesini lagi,” ucap ibu. “Dobel shift?” tanya Leina. Ibu menggeleng, wajahnya sedikit layu, “Seperti yang pernah Ibu bilang, kondisi pekerjaaan sedang tidak bagus Lei … jadi sudah tidak ada dobel shift atau lembur ….” Leina menatap ibu. Ibu hanya tersenyum, mengusap kepala Leina lalu berjalan pergi. Leina memandangi punggung ibunya hinga menghilang di belokan lorong rumah sakit kemudian ia kembali memandangi Asri.

Kini semua rambut di kepala Asri telah dibersihkan seluruhnya dari kepala untuk operasi pengangkatan gumpalan darah di belakang kepalanya. Leina terus menatap Asri, banyak sekali yang ingin dikatakannya. Ia tak menyangka kehidupan Asri tidak semudah yang ia duga. Leina menghela nafas, ternyata, banyak gadis kecil yang seperti dirinya harus menjalani hidup yang pahit ini. Tapi ia belum ada apa-apanya bila dibandingkan Asri. Di saat Leina sedang tercenung, ia dikejutkan oleh gerak lemah dari salah satu jari Asri. Jari itu bergerak perlahan. Leina bergegas mencari perawat. Seorang perawat yang sedang berjaga di ruang IGD ditariknya cepat.

“Lihat Bu!’ tunjuk Leina pada jari Asri. Perawat itu terperangah, “Dia siuman!?” seperti tak percaya perawat itu segera berlari masuk ke dalam ruangan rawat dan menekan sebuah bel. Tak lama datang seorang dokter yang sejak awal merawat Asri dengan dua perawat lainnya. Wajah mereka sumringah melihat Asri menggerakan jemarinya. Hati Leina pun dipenuhi gemuruh rasa bahagia melihat temannya kembali sadar dari komanya.

Beberapa saat kemudian.

Lihat selengkapnya