Leina terkejut ketika namanya dipanggil oleh Pak Saptodjo saat pulang sekolah.
Ia menoleh dan Pak Saptodjo terlihat menghampirinya. Jantung Leina berdebar. Sekolah sudah sepi tidak nampak lagi gerombolan murid yang ngobrol di kelas atau di lorong gedung. Pak Saptodjo telah berdiri di hadapan Leina menyunggingkan senyum. Leina menunduk. “Leina, masih gambar?” tanyanya lembut, Leina mengangguk. “Bapak nunggu-nunggu loh di ruangan Bapak, kapan kamu mau belajar gambar sama Bapak?” lanjut Pak Saptodjo bertanya. Leina hanya terdiam, gerahamnya mengatup keras, jemarinya meremas-remas kuat tasnya. Terbayang wajah Mutia yang menangis di kepala Leina.
Pak Saptodjo akan menyentuh bahu Leina tetapi Leina dengan segera bergerak menghindar. Pak Saptodjo sedikit terkejut tapi ia tersenyum lagi, “Jadi kapan kamu mau belajar gambar sama Bapak? Bapak bisa nunjukkin gambar-gambar bagus loh, kamu pasti suka … Bapak juga sudah ga sabar mau lihat gambar terbarumu.” Leina masih diam, di dalam dadanya berkobar api kemarahan yang disimpannya. “Atau mau belajar gambar sekarang aja? Mumpung Bapak sedang ada waktu luang, gimana?” tawar Pak Saptodjo.
Dengan cepat Leina menggeleng, “Ga! Saya … saya mau ke rumah sakit Pak.” Untung saja ia memiliki alasan yang tepat. Pak Saptodjo menepuk jidatnya, “Oh iya, nengok Asri ya? Teman sekelasmu bukan? (Leina mengangguk) Kemarin Pak Asep info ke Bapak kalau Asri murid dari kelas sepuluh Ce masuk rumah sakit … hmm, baiklah kalau tidak bisa sekarang, kapan?” Leina mengangkat bahunya. “Ya sudah kamu ke rumah sakit saja dulu … besok siang atau sore Bapak ada wak----“ belum selesai Pak Saptodjo bicara, Leina sudah berjalan pergi.
Pak Saptodjo menatap punggung Leina yang menjauh.
***
Kali ini mereka ke rumah sakit dengan mengunakan bus. Biasanya ibu memakai taksi tapi sepertinya kondisi keuangan ibu makin menipis. Sepanjang perjalanan ibu memperhatikan Leina yang duduk diam memandangi jalanan. “Ada apa Lei? Dari tadi diem terus,” ujar ibu seraya mencolek bahu Leina. “Bukannya kata Ibu aku tuh irit ngomong?” sahut Leina. Ibu tertawa. “Bu aku ingin berenti gambar,” lanjut Leina. Ibu terkejut, “Loh kenapa?” Leina mengeleng, “Ga tau Bu, aku merasa takut.”
“Takut? Menurut Ibu gambarmu bagus kok.”
“Tapi … semua menceritakan kematian.”
“Terus?”
“Aku takut, kadang aku merasa aku diikuti.”