Pak Asep, Ibu dan Leina tampak menunggu dalam cemas.
Beberapa kali Leina melihat kelebatan sosok anak perempuan berbaju hitam di sekitarnya atau di antara lalu lalang orang, tetapi saat dicarinya sosok itu menghilang. Sungguh Leina menjadi khawatir. Sosok ini menampakkan diri di malam sebelum Mutia mengakhiri hidupnya, sekarang sosok ini muncul dan menampakkan diri di saat Asri sedang dalam kondisi kritis. Leina gelisah, ia berjalan menuju pojok bangsal yang terlihat gelap. Kemudian berdiri di situ.
“Kalau kamu ada di sini, tolong jangan ambil temanku satu-satunya, pergilah dan aku berjanji tidak akan menggambar apa pun dari duniamu lagi,” bisik Leina pada kegelapan pojok bangsal itu. Tidak ada tanggapan. Tiba-tiba angin dingin bertiup menghembus menggoyangkan rambut Leina. Sosok anak perempuan berbaju hitam itu telah berdiri di samping Leina. Leina bisa merasakan kehadirannya meski kali ini ia tak bisa melihatnya.
Gadis kecil.
Leina mendengar bisikan itu di telinganya yang mendirikan bulu kuduk.
Dua mata saya, memperhatikanmu. Suara itu berbisik dengan perlahan, kata per kata seperti meminta Leina untuk mengikuti. Leina menggeleng, berkata pelan, “Aku ga mau mengikutimu, aku ga mau memanggilmu … kamu akan mengambil sahabatku!” Sontak Leina terkesiap ketika merasakan tengkuk lehernya begitu dingin. Ia merasa jemari sosok itu memegangi tengkuk lehernya dan tak lama Leina menggerakkan bibirnya. “Dua … mata saya … memperhatikanmu,” ulang Leina meski ia tak mau tapi ia merasa seperti menurut.
Dua kaki saya, tanpa sepatu baru. Leina mengikuti lagi, “Dua kaki saya … tanpa sepatu baru.”
Dua telinga saya, bisa mendengarmu. Leina melirik dan kini ia bisa melihat lagi kemunculan sosok anak perempuan berbaju hitam berada di samping kanannya dengan kepala menunduk. “Dua … telinga saya … bisa mendengarmu,” ulang Leina kemudian ia bertanya dengan berbisik pada sosok itu, “Mengapa kamu memintaku untuk mengulangi ini? Saya masih belum mengerti”
Tiba-tiba sebuah tepukan di pundak mengagetkan Leina. Ia menoleh dan melihat seorang satpam sedang memperhatikannya dengan kerutan di kening. “Dari tadi diperhatiin … lagi ngapain kamu menghadap pojok gelap ngomong sendiri?” tanya satpam pada Leina dengan tatapan aneh.
Leina menoleh ke sampingnya, sosok itu sudah menghilang.
Leina berdecak kesal karena kedatangan satpam itu malah mengganggunya. Ia tidak menjawab pertanyaan satpam dan pergi begitu saja meninggalkan satpam itu yang hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya tak mengerti. Ibu melihat Leina yang datang dari bangsal segera menghampirinya. “Lei, kamu kemana sih, pergi ga bilang-bilang … dari tadi Ibu nyariin kamu …” ujar ibu.
“Bu, tadi dia muncul lagi dan----”
“Bentar Lei, ini ada yang lebih penting,” potong ibu.
Leina terdiam kemudian melihat sekelilingnya. “Pak Asep mana?” tanya Leina setelah menyadari Pak Asep tidak ada di ruang tunggu. “Tadi Pak Dokter memanggil Pak Asep … operasinya sudah selesai,” jawab ibu.