Leina duduk di ujung lapangan tempat biasa Asri duduk dulu.
Di kejauhan tampak Anton sedang bermain basket. Setelah memasukkan bola ke dalam keranjang, Anton menatap Leina, mengedipkan matanya. Leina tidak membalas ia hanya menatapnya saja. Anton menempelkan jari telunjuk dengan jempolnya membentuk simbol ‘love’ ala korea, tapi Leina tak peduli, hatinya sedang dilanda sepi. Kini ia tidak memiliki teman lagi di sekolah. Tidak ada Mutia, tidak ada Asri. Dulu ia terbiasa sendiri dan tidak takut sendiri, tetapi kini entah kenapa, ia bisa merasakan sepi.
Ia melihat sekelilingnya. Tidak ada yang kehilangan Asri meski pihak sekolah telah mengumumkan berita wafatnya Asri. Semua berjalan seperti biasa. Keramaian, canda tawa tidak berubah. Tidak ada yang kehilangan Asri seperti dirinya. Leina menggeleng pelan, berkata dalam hatinya, “Apa yang diharapkan dari dunia yang sudah tidak memiliki empati seperti ini.” Leina berdiri lalu berjalan kembali menuju kelasnya
Tiba-tiba.
“Aduh!” seru Leina terkejut dan mengaduh saat sebuah bola basket tiba-tiba mendarat keras di kepalanya. Terdengar suara tawa meledek dari belakang Leina. Leina sudah tahu suara tawa siapa itu. Reni bersama dua orang temannya berjalan mendekati Leina. Satu dari mereka mendorong Leina hingga punggungnya menempel di dinding sekolah. Kejadian itu mengundang murid-murid yang sedang beristirahat untuk datang mengerumuni mereka. Reni menatap tajam pada Leina dengan tangannya menunjuk-nunjuk wajah Leina dalam jarak yang sangat dekat. “Lo masih cari masalah ya? Lo tadi ngeliatin cowok-cowok yang lagi maen basket itu ‘kan? Awas kalau lo ngeliatin mereka lagi!” ancam Reni.
“Kenapa ngelarang? Mereka aja ga ngelarang,” sahut Leina entah dari mana ia mendapat keberanian untuk membalas perkataan Reni tanpa gemetar lagi.