Anton melihat Leina yang berlari tergesa melintasi lapangan.
Ia menyelesaikan permainan basketnya. “Bro! Gue udahan dulu ya,” serunya pada teman-temannya lalu mengambil tasnya. “Hoy! Mau kemana lo?” tanya temannya. Anton tak menjawab ia hanya berjalan bergegas. “Biasa, urusan laki-laki dewasa,” sahut salah satu teman Anton sembari menyenggol bahu teman yang menanyakan tadi dengan sikutnya. Mereka pun tertawa.
Dilihatnya Leina berjalan bergegas di depan sana, melewati lapangan tanah, melewati padang ilalang kemudian melompat turun pada saluran pembuangan air yang besar. Anton tahu kemana Leina akan pergi. Anton mengeluarkan telepon genggamnya, mengetik sesuatu untuk beberapa saat lalu menyimpan kembali telepon genggamnya dan kembali berjalan menyusul Leina.
***
Sementara itu.
Leina telah tiba di tempat pelariannya. Ia duduk memeluk lututnya di atas batu menatap aliran air sungai yang hari ini tampak surut dan tidak sebersih kemarin-kemarin, tapi angin masih berhembus sejuk dan masih mengirimkan harum bunga kamboja. Teringat akan Asri, teringat akan janjinya yang tidak bisa ia penuhi pada Asri, yaitu membawanya kesini. “Maafkan gue Sri,” gumam Leina.
Leina diam beberapa saat lalu berdecak dan berdecak lagi. Teringat akan hari-hari buruk yang ia lewati baik sendiri atau bersama Asri, hatinya menjadi begitu marah dan kesal. Mau sampai kapan semua ini berlanjut? Mau sampai kapan dirinya selalu diam tak berdaya? Leina geram atas kemarahan yang tidak bisa diluapkannya. Sesungguhnya, amarah itu sudah bergolak dalam wadah dadanya bahkan sudah meluber tumpah. Sesungguhnya, amarah itu sudah bocor seperti gas metana yang mengambang memenuhi udara di dadanya.
Leina hanya butuh pemantik untuk meledakkan semuanya.
Krak!
Leina terkesiap mendengar suara ranting yang patah terinjak kaki di belakangnya. Ia menoleh. Nampak Anton tengah berdiri menatapnya dengan wajah terkejut seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Anton? A … apa yang lo lakukan di sini?” tanya Leina tak kalah terkejutnya hingga melompat dari duduknya. “What a hidden gems,” sahut Anton melihat sekelilingnya. “Apa maksud lo?” Leina tak mengerti.
“Lo nemuin tempat ini gimana caranya Lei? Gue ga nyangka kalau di belakang komplek kuburan ada tempat tenang dan bagus buat menyendiri kayak gini … kayak oase di tengah padang gurun … harta yang tersembunyi,” puji Anton.
“Kok lo tau gue ada di sini? Lo ngikutin gue?” selidik Leina.
“Bukan ngikutin … gue nyusulin lo … tadi gue lihat waktu lo jalan terburu-buru dari sekolah dan gue tahu lo pasti akan ke pemakamam ini … tapi setelah gue lihat lo ga ada di depan, gue coba ke belakang sini dan ternyata dugaan gue betul lo ada di sini,” jelas Anton.
Leina menghela nafas, “Nah sekarang lo udah tau tempat pelarian gue ini.”
“Tempat yang menyenangkan untuk menenangkan pikiran meski harus melewati banyak kuburan untuk sampai kesini … gue salut sama nyali lo Lei,” cengir Anton seraya duduk di batu itu. Leina masih berdiri dan canggung. “Hey kenapa masih berdiri? Sini duduk di sebelah gue … kita sudah pernah ketemu dan ngobrol bukan? Kok lo kayak yang masih awkward gitu sih?” heran Anton seraya menepuk-nepuk batu di sebelahnya mengajak Leina untuk duduk di sebelahnya. Awalnya ragu tapi melihat Anton memberikan senyumnya, Leina pun duduk sembari memeluk tasnya.