Malam itu.
“Yeah three point!” seru Anton mengangkat kepalan tangannya melihat lemparan bolanya masuk keranjang dengan mulus. Teman-teman satu timnya bersorak ikut merayakannya dengan saling tos. Mereka bermain lagi. Lawannya melempar bola pada rekannya, sayang lemparannya bisa terbaca oleh Anton. Bola itu disabetnya lalu di-drible sambil berlari menyusuri sisi lapangan, seorang lawan menghadangnya lalu Anton melempar bola pada teman satu timnya yang tengah berlari di kanannya menerobos pertahanan lawan. Bola itu berhasil ditangkap dan di-drible cepat untuk menusuk sarang lawan tapi lawannya mengetahui itu, ia segera menempel teman Anton itu dan menghalang-halangi larinya. Suara sepatu berdecit-decit ketika temannya Anton itu menghentikan larinya dan berusaha lepas dari tempelan lawan di punggungnya.
Anton yang telah bergerak bebas, memberi tanda. Temannya melihat itu dan memantulkan bola melalui kolong kaki lawannya yang langsung ditangkap Anton dengan gerakan cepat, lalu ia berlari dan melompat memasukkan bola. “Yes!” seru temannya melihat Anton berhasil memasukkan bola pada keranjangnya. Salah satu temannya memberi tanda dengan tangannya, “Time out!” Mereka pun berjalan ke pinggir lapangan, di mana terdapat sebuah kursi panjang dari besi dengan tas-tas mereka di atasnya. Mereka mengambil minum dan handuk untuk menyeka keringat sedang Anton masih bermain sendiri di lapangan.
“Gerakan lo makin cepet Ton, cakep!” puji temannya yang duduk kelelahan. Anton hanya tertawa menanggapinya lalu melempar bola ke keranjang dari jarak yang jauh dan masuk. “Eh Ton … katanya tadi sore ada kasus di pekuburan ya?” lontar temannya. Anton tertawa, mengangguk. “Kasus cewek yang lo lagi pedekate itu bukan?” tanyanya lagi, Anton mengangguk lagi. “Kenapa emang dia?” tanya temannya yang lain penasaran. Anton menghentikan bermain, kemudian berjalan menghampiri teman-temannya. “Biasa cewek murahan dan kampungan, hahaha,” ledek Anton diikuti tawa teman-temannya.
“Lo menang banyak dong?” tanya temannya. “Ya iyalah … temen-temen gue di sekolah bilang kalau gue bakal susah ngedeketin cewek aneh kek gitu …tapi gue bilang gampang … akhirnya kita taruhan … dan betul ‘kan? Gue menang … cewek tolol kek dia itu gampang dirayunya, dibohonginnya … tinggal pura-pura cinta langsung deh bisa cium dan grepe trus ah oh ah oh … hahaha,” beber Anton dengan nada bicara yang merendahkan. Teman-temannya pun tertawa lagi. “Si Reni ga cemburu?” celetuk temannya. “Ga lah … dia udah tau dari awal kok, kalau gue deketin ‘tu cewek cuma buat taruhan doang,” jawab Anton. Mereka terus ngobrol dan tertawa hingga tak menyadari sebuah bayangan berkelebat di belakang mereka.
“Bro, ini udah malem, kayaknya besok lagi aja kita lanjutin maennya ok?” sahut seorang teman Anton melempar saran sembari melihat jam tangannya. Semuanya mengangguk dan berkemas, sedang Anton kembali berjalan ke lapangan membawa bola. “Ton! Lo ga balik?” tanya seorang temannya. “Kalian duluan aja … gue mau ngelatih beberapa shoot gue dulu,” jawab Anton. “Ok deh Bro, sampai besok ya,” sahut teman-temannya sembari berjalan keluar lapangan melalui pintu yang terbuat dari pagar kawat. Anton mengangguk lalu kembali berlatih sendirian di lapangan basket. Geruman suara-suara mesin motor terdengar ramai lalu menderu meninggalkan lapangan.
Lapangan basket itu menjadi sepi. Hanya terdengar suara pantulan bola dan langkah kaki Anton saja. Lokasi lapangannya sedikit jauh dari rumah-rumah warga. Lapangannya dikelilingi pagar kawat yang tinggi untuk mencegah agar bola tidak memantul keluar jauh. Lampu hanya menerangi setengah lapangan saja sedang sisi lapangan lainnya tampak gelap. Di sekitar lapangan masih terdapat banyak semak belukar dan pohon-pohon peneduh yang tidak terlalu besar.
Anton kembali bermain. Ia mundur beberapa langkah kemudian melempar bola basket itu ke dalam keranjang dan masuk. “Yes!” serunya. Kemudian ia mundur beberapa langkah lebih jauh lagi lalu melempar bolanya. Bola melambung tinggi dan turun cepat menuju keranjang. Anton berharap bola itu masuk tapi meleset! Bola hanya mengenai pinggiran besi keranjangnya saja. Anton berteriak kesal, “Arrghh!” Bola basket itu jatuh memantul-mantul dan menggelinding ke semak gelap yang tak terkena cahaya lampu di lapangan. Anton berdecak kesal lalu melangkah untuk mengambilnya.
Kresek!
Tiba-tiba terdengar bunyi dari balik semak itu.