Malam bergulir larut.
Tidak ada orang di luar. Semua orang memilih berada di dalam rumah terlebih setelah terjadi kasus tewasnya Anton. Mereka semua tidak berani untuk keluar malam. Jalan-jalan tampak sepi. Malam sangat sunyi tapi di bawah cahaya bulan yang setengahnya tertutup awan, nampak langkah kaki-kaki kecil tengah menapak tanpa sepatu. Kaki itu berjalan di atas pekarangan dengan rumput-rumput liar yang tinggi. Terus melangkah lalu berhenti sebentar untuk memungut sebatang patahan ranting besar yang jatuh dari pohon. Ujung rantingnya terlihat runcing kemudian kaki-kaki kecil itu berjalan lagi hingga menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu rumah. Angin dingin musim kemarau berhembus, menggoyangkan rumput-rumput liar yang kering. Terdengar pintu depan diketuk dengan keras.
Tok, tok, tok!
Ayah Asri yang teler di atas kursi tidak mengindahkan ketukan itu. Sebuah jarum masih tertusuk menempel di lengan atasnya. Ketukan di pintu terdengar lagi. “Siapa sih?” kesal Ayah Asri berusaha berdiri di antara sadar dan tidaknya. Bukannya membuka pintu ia malah menggedor pintu kamarnya dengan keras. “Hoy Bangsat! Udah cukup! Keluar!” teriaknya dengan tubuh sempoyongan. Pintu kamar terbuka dan keluarlah Ibu Asri yang langsung meninju wajah suaminya itu. “Bajingan!” teriaknya. Suaminya jatuh terjengkang hingga menghempas lantai tapi tertawa, “Hahaha, sabar Sayang … mau gimana lagi, Asri udah ga ada, hahaha.”
Dari kamar yang sama juga keluar seorang bandar tua narkoba dengan rambut yang telah memutih dan badan yang dipenuhi tato, menutup retsleting celananya. Ia mendekati ibu Asri, menghembuskan asap rokoknya seraya mencengkeram kasar dagu juga pipi Ibu Asri dengan jarinya hingga bibir Ibu Asri menjadi muncung lalu mendekatkan wajahnya. “Heh karena lo udah ngelayani gue, jadi untuk malam ini gue kasih gratis … tapi besok-besok lo harus bayar! Ga peduli lo ngangkang juga! Kalau besok-besok lo ga bayar, gue bakar rumah lo sama lo berdua di dalamnya! Inget!” ancamnya. Ibu Asri mengangguk ketakutan.
Kemudian ia melepas Ibu Asri dan memberikannya satu plastik kecil berisikan bubuk putih. Ibu Asri segera mengambilnya dan berjongkok di depan meja menyalakan api kecil. Tok tok tok! Ketukan itu terdengar lagi. Bandar tua itu melihat Ayah Asri yang sedang terlentang di lantai dengan tatapan mata yang kosong menatap langit-langit rumah sedang Ibu Asri sudah mulai mengisap narkobanya. Ia berdecak kesal melihat kedua orang itu sedang sibuk dengan dunianya sendiri. “Manusia-manusia gak guna!” gerundelnya sembari berjalan menuju pintu depan.
Tok tok tok!