"Ayo berkencan!" lelaki dengan hoodie abu-abu itu menatap tepat ke manik mata Auristella. Menyorot tajam tanda ia tak suka dengan kalimat barusan. "Berkencan? Pacaran? Kamu bukan tidak tau artinya kan?"
"Kau di sini untuk omong kosong?"
"Siapa yang bilang omong kosong? Aku menyukaimu sejak lama. Dan sekarang aku menyatakan cinta"
Jang Hyeon Jae, lelaki di hadapannya ini langsung melepas tawa sinis. Bodoh jika orang menganggapnya manis sekaligus mengerikan. Dan Auristella termasuk orang bodoh itu sekarang. "Orang bodoh pun tau kau sedang berbohong"
Kata bodohnya membuat Auri terdiam sejenak. "Kenapa susah sekali kau percaya? I really want you to be my boyfriend."
Mata memikat di depannya itu hanya menatap untuk beberapa saat. Entah memindai tubuh atau sedang memikirkan kalimat Auri yang dilihat dari luar sudah lumayan menyakinkan. Gadis ini punya strict bestfriend yang secara tidak langsung mengajarinya untuk sering bohong dengan natural. Oh maaf bukan bohong natural, tapi berakting profesional.
"Beri aku alasan kenapa aku harus menerimanya!"
Auri mendadak berbinar. Ada sedikit harapan tapi bukan kalimat ini yang ia pikir akan keluar. Dalam list rencananya tadi, dia tak memikirkan kemungkinan perintah macam begini. Tapi kesempatan tetap kesempatan yang tak boleh disia-siakan. "Karena aku cantik?" jawabnya asal. "Wanita cantik menyukaimu secara tulus, itu nilai plus yang berharga."
"Kau bodoh?"
Decakan pelan muncul di antara mereka. "Begini-begini aku adalah siswi blackfire terbaik di mata pelajaran musik dan vokal. Terbaik."
"Tapi kau peringkat terakhir kan di jurusanmu?"
Mata Auri melotot sekarang, Nampak tak terima. Bagaimana dia bisa tau? "No, Hyeon Jae. Aku peringkat 46 seangkatan."
"Cuman ada 50 siswa per angkatan jurusan."
"Yang penting bukan terakhir kan? Lima dari belakang di Blackfire itu sudah sangat bagus."
"Tapi aku yang pertama seangkatan."
Auri meringis malu sekalian menahan kesal. Nampaknya mengajak kencan modelan begini lumayan susah. Dia terbiasa diajak, bukan mengajak. "Makanya, Hyeon Jae. Kita berdua itu cocok. Murid jajaran peringkat atas bersanding dengan jajaran peringkat bawah, cerita favorit novel best seller indo. Lagian kau juga bakal dapat keuntungan. Setidaknya cewek-cewek grup sorak yang ambil kesempatan ditiap kesempitan buat ngedeketin kamu bakal mundur perlahan. Aku tau kalau kamu selama ini risih, kan?"
Yaa memang bisa dibilang begitu. Selain kalau mereka berpacaran bisa membuat gadis-gadis itu patah hati, Auri juga adalah ketua regu sorak. Selalu ada di arena lapangan yang otomatis bisa menciptakan kesan cerita cinta paling romantis. Dia juga bisa menjadi tameng ciwi-ciwi ribut yang suka menyodorkan paksa minuman dan handuk kalau tanding basket usai. Terutama untuk Jang Hyeon Jae, si basket famous, tampan, dan pintar. Serta sikapnya yang sok cuek itu makin membuatnya diincar di mana-mana.
Lelaki asal Korea ini hanya menatapnya untuk beberapa saat. Cukup lama sampai membuat Auri was-was sendiri.
"Oke."
Auri mengerjab sebentar. "Apa?"
"Kita berkencan," Segampang itu? Gadis berseragam International Blackfire High School ini berusaha untuk tidak nampak heran. "Tentu saja dengan syarat" Kan. Apa kataku? Tidak akan gampang. "Kita tidak akan putus sebelum aku yang minta"
Tidak akan putus sebelum aku yang minta? Auristella masih berusaha mencerna kalimat itu untuk beberapa detik. "Aku kan memang ingin kamu jadi pacarku. Kenapa aku yang minta putus?" Hyeon Jae mengangguk.
"Kita lihat aja nanti"
Auri mengangguk-angguk paham tapi kemudian menutup mulut sangking terkejutnya. Bukan itu poin utamanya kan? Tapi penerimaan dari Hyeon Jae. "Berarti ini hari pertama kita?"
Hanya deheman lembut yang menyahut. Lembut mirip-mirip orang malas. "Aku pulang."
Kali ini Auri malah memberi jalan untuk pacar barunya itu lewat. Pacar? Aish dia tak bisa menahan lengkungan di bibirnya sekarang. Kalau menembak pria setampan aktor mahal itu segampang ini, kenapa ia sampai menyiapkan berlembar-lembar rencana cadangan. Sangat membuang waktu. Tapi wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan rasa super senangnya sekarang.
Boleh tidak kalau dia loncat-loncat girang sekarang. Aku ingin berteriak kencang.
"Aurii!!" ia menoleh dan matanya langsung bersirobok dengan gadis piyama pink berlapis mantel tebal senada, melambai-lambai ke arahnya. Auristella mengangkat alis sambil mendekat. Kenapa teman asramanya ada disini? Apa dia mendengarkan tingkah gilanya barusan? "Kau sangat lama. Apa regu sorak punya begitu banyak kegiatan? Aku takut lama-lama sendirian di kamar" kalimat Hillaeri ketika mereka sampai berhadapan membuat gadis ini bernapas lega. Setidaknya dia tidak ketahuan di hari pertama.
"Hmm. Banyak sekali," keluhnya dengan wajah cemberut tebal. Hillaeri terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk atas kepalanya pelan. Sahabatnya itu memang suka pamer tentang tinggi badannya yang lebih diatas 5 senti dari Auri. Dengan menepuk-nepuk atas kepala Auristella