Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #3

002˚ 01ʼ 7,13ˮ - Pelindung

Ia bangga dengan dirinya sendiri. Bersiap untuk menghadiri pesta nikah sang kakak hanya dalam 10 menit, dan lihatlah pantulannya di cermin lift sekarang. Tak kalah cantiklah jika dibandingkan dengan wanita yang kini berdiri di pelaminan ballroom hotel. Aubriella, kakak kandung yang super cerewet berhasil menghabiskan energi adiknya dengan kejam hanya karena pesta lajang. Oke. Auristella juga bersenang-senang tadi malam, tapi kenapa hanya dia yang telat bangun? Bahkan oma yang satu kamar dengannya tak menoel bahkan sedikit agar sang cucu membuka mata tepat waktu.

Entah sekarang ia telat berapa jam, Auristella tetap menekan tombol lift menuju ballroom di lantai atas hotel. Sampai secara tiba-tiba lantai yang ia pijak berhenti naik dan lampu lift mati total. Karena percaya dengan harga hampir menyentuh dua ribu dollar permalam ini, membuat gadis dengan balutan dress peace-nya itu masih tenang selepas menekan tombol bantuan. Namun guncangan hebat berhasil membuatnya meraih pegangan besi lift seerat mungkin.

Lift kembali bergejolak hebat dengan suara gesekan tajam yang menandakan benda ini terpaksa turun ke bawah akibat gravitasi. "HELP ME!" teriak Auristella kalang kabut. Dan teriakan kedua menyusul bersamaan dengan atap lift jatuh akibat dobrakan keras dari atas. Itu bukan penyelamatan. Wanita dengan kostum sama persis dengannya loncat dari sana lalu menyeringai tajam di hadapan Auristella. Lompatan itu membuat lift bertambah beberapa puluh senti ke bawah.

"Hi, Auristella!"

Ia merinding ketika sapaan di depan sana menggunakan lengan berpistol yang dilambaikan akrab. "W-w-who are you?"

"Malaikat mautmu" Wanita itu menambah langkah mendekatnya sambil tertawa melihat ketakutan sang mangsa. Matanya hampir saja membuat Auristella terbuai karena benar-benar sama persis seperti miliknya sebelum rasa dingin ujung pistol menyentuh kulit kening. Ia melotot kaget. "Kamu tau? Aku sangat ingin menembakmu seperti ini"

"Si-siapa kamu sebenarnya? Apa ma-masalahmu denganku?"

Pistol itu beralih menyentuh bibirnya layaknya telunjuk yang menghalangi cakap berisik manusia. "Shutt. Jangan berisik! Nanti pemadam kebakaran diluar bisa mendengarmu" Auristella melotot. "Ya. Kebakaran. Kamu akan hangus bersama api disini. Paling baiknya, terpanggang panas sambil mati perlahan. Jasadmu masih sisa kalau begitu"

Lihat selengkapnya