~selamat membaca :)~
Mereka sudah pacaran semingguan tapi tak ada interaksi apapun selama ini. Bahkan chat pun tidak. Hyeon Jae hanya membalas pesan pertama Auri tentang menyimpan nomor waktu itu tapi kalimat-kalimat selama berhari-hari ini, bahkan tak dibaca sama sekali. Nomornya tak diblokir karena masih centang dua ketika dia mengirim pesan, tapi kenapa tidak dibuka sama sekali.
Jadi, ketika tadi Hillaeri masih bergelut dengan telepon mamanya yang di Eropa, Auri ijin berangkat dulu karena ada urusan. Dia akan mencari Hyeon Jae untuk melancarkan langkah kedua. Kalau lelaki itu tidak bisa mengakui kisah cinta mereka, biar dunia yang melakukannya.
Tapakan kaki Auri sekarang sudah ada di pinggir lapangan basket. Awalnya memang tak ada yang memperhatikan karena bukan hal aneh seorang ketua regu sorak bergumul dengan gadis lain di sisi lapangan. Tapi ketika Auri mulai melangkah masuk bersama akting wajah marahnya, seisi tribun yang bahkan tak banyak jadi heboh. Tak ada yang paham kenapa primadona seni itu kemari sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan Jang Hyeon Jae. Sesi main basket berhenti spontan.
"Kenapa tidak membalas chatku?" ucapnya sengaja dilantangkan sambil memberi tunjuk layar handphone di tangan. Pesan yang ia kirim beberapa jam lalu. Sebenarnya Auristella sedikit gemetar sekarang apalagi dengan tatapan tajam teman main sang pacar. Park Min Ho? Sepertinya itu nama yang ia dengar dari Hillaeri terakhir kali. Dia itu sama mengerikannya dengan Hyeon Jae kalau kata sang sahabat. "Apa setidak penting itu sampai cuman kamu baca doang?"
"What are you doing!?" bisik lelaki ini tajam. Matanya itu, benar-benar hampir menguras keberanian Auri. Lihat saja, ia sekarang mulai ikutan berbisik.
"Kita butuh publish hubungankan? Cara ini yang terbaik" sungguh sekarang ia sedang menahan tawa karena wajah frustasi Hyeon Jae yang aneh. Bukan mengerikan tapi benar-benar menggemaskan. Astaga. Ada apa dengan otakku.
"Kau gila? Apa sebenarnya yang kau –."
Auristella cepat-cepat menyela saat ada seorang anggota basket dengan sengaja lewat dekat-dekat untuk curi dengar. "Kamu kira backstreet selama dua tahun itu gampang? Apa tidak bisa kita berhenti main-main?" tambahnya sambil memukul dada pacarnya sok kuat.
"Auri! Jaga sikapmu!" lelaki itu masih berusaha menggertak dengan bisikan tajam. Menahan lengan sang pacar yang baru saja memukul dadanya meski akhirnya ditarik kuat.
Auri pura-pura berpaling marah sambil bersedekap. Oh My God! Lihatlah aktingnya! Ia harus segera mendaftar ke sebuah agensi agar tidak menyia-nyiakan bakat. Hyeon Jae bahkan sampai dibuat memijat pangkal hidung saking kesalnya. Mungkin dia mulai menyesal karena menerima ajakan pacaran gadis ini minggu lalu.
"Kembali ke kelasmu! Jangan suka bolos! Kita bahas ini nanti"
Auristella menoleh dibuatnya. Hyeon Jae menyahutinya? Lelaki ini diluar nalar. "Tapi kamu selalu –."
"Kembali sekarang!" Kali ini ancaman tanpa bisik-bisik. Dan itu berefek besar pada tubuh sang pacar. Ini bukan gemetar ketakutan kan? Tapi kenapa jantungnya yang menggila? Dia sedang tidak lagi terkagum dengan sikap tegas lelaki di hadapannya kan?
Tanpa berkata, dan dengan wajah cemberut pastinya. Ia berbalik lalu menjauh dari lapangan basket sekolah yang entah kenapa lebih ramai daripada saat ia datang. Langkahnya juga sengaja dihentak-hentakkan seolah protes dengan alam atas ketidakadilan. Meski ketika sudah agak jauh dari posisi lapangan, dia malah merubah wajah jadi tertawa kecil dan melambatkan langkah. Wajah marah Hyeon Jae meski menakutkan juga lumayan menghibur, jadi dia kelepasan tertawa tanpa ingat tempat. Wajah frustasinya juga benar-benar menggoda.
Gila-gila! Apa yang ku pikirkan? Ia bisa gila jika terus begini.
Sadar akan tawanya yang terlepas itu, mata Auri berkeliling. Memastikan kalau tidak ada yang sedang memperhatikannya jijik dengan makna gila.
Kepalanya yang sedang memandang sekitar, mengecek apakah ada yang sedang memperhatikan tingkah gilanya. Namun malah terpaku dengan mading sekolah. Poster warning dengan label hilang menarik matanya. Disana ada foto sahabat sekelasnya juga yang menghilang sudah beberapa hari ini. Namanya Anna.
Mereka bersahabat bertiga. Auri, Anna, dan Hillaeri. Anna hilang saat pulang dari sekolah karena notabennya, ia punya rumah sendiri di sekitar sini. Meski lumayan jauh juga. Dia tidak berminat berasrama.
"Kamu dimana sebenarnya, Anna"
Kalimat spontannya itu berhasil menarik perhatian dua pria yang mendekat lalu berdiri mengapit dirinya. "Anna yang malang. Dia hilang bersamamu dan hanya kau yang kembali. Semoga dia tidak apa-apa"
Auristella menoleh. Pria ini anak kelas sebelah yang bahkan ia tidak hafal namanya. "Kapan aku hilang? Dan Bersama Anna?"
Lelaki di sebelah lain yang menyahut. "Kau amnesia? Kau tidak lupa kejadian kemah kan?" gadis itu menggeleng pasti setelah berbalik pandangan ke pria di sisi satunya.
"Kemah apaan? Sekolah kita bahkan tidak pernah ada kemah. Tidak mungkin juga aku akan kemah sendiri"
Auristella makin heran saat kedua teman seangkatannya hanya menepuk bahunya secara bersamaan dengan raut menenangkan lalu berjalan pergi dari sana. Hey. Apa ada yang salah disini? Gadis ini kembali menatap gambar Anna di mading sekolah. "Kemah? Kapan?"
Ia langsung terlonjak ketika bel masuk kelas untuk para murid berdering kencang. Gadis ini berlari menaiki tangga ke lantai tiga untuk memasuki kelasnya. Saat benar-benar melewati pintu kelas, dan duduk rapi di bangku deretan depan miliknya, gadis ini kembali terusik dengan kemah tadi. Badannya menyerong ke posisi Hillaeri yang duduk tepat di belakangnya.