Furnitur apartement anak orang kaya memang beda. Bahkan Auristella terbuai untuk tidur hanya dengan menyelonjorkan kepala di meja ruang tamunya. Karpet di bawah lipatan kaki juga macam membawa tubuh melayang di atas awan.
Tempat ini bukan kategori mewah yang untuk mengitarinya bisa mencapai berjam-jam sendiri. Bahkan saat pertama kali menginjakkan kaki, Auristella sudah dapat melihat pemandangan ruang tamu dan meja pantry dapur. Namun desain interior ruangan di lantai 10 ini benar-benar memanjakan mata. Oh jangan lupakan pemandangan balkonnya.
"Makasih, tehnya."
Deheman kecil menyahut bertepatan dengan Auri yang mulai meneguk minumannya. Dari balik cangkir, Hyeon Jae mulai membuka notebook dan nampak cukup serius mengerjakan sesuatu. Jadi Auri benar-benar merealisasikan selonjoran di meja daripada mengganggu sang pacar yang mungkin sedang mengerjakan tugas. Matanya fokus pada interior apartement yang bisa dijangkau penglihatan.
Tempat ini bukan kategori mewah yang untuk mengitarinya bisa mencapai berjam-jam sendiri. Bahkan saat pertama kali menginjakkan kaki, Auristella sudah dapat melihat pemandangan ruang tamu dan meja pantry dapur. Namun desain interior ruangan di lantai 10 ini benar-benar memanjakan mata.
Dia memejam sejenak dan entah di detik ke berapa ia sudah tak sadarkan diri. Ketika matanya kembali mendapati dunia apartement Hyeon Jae, Auri melirik jam di handphone sebelahnya. Sudah lewat berpuluh-puluh menit daripada ketika dia ambil duduk di atas karpet tadi. Badannya menegak dan sedikit merenggangkan diri karena pegal.
Meski waktu sudah lumayan lama tergerak, tapi posisi Hyeon Jae masih sama dengan yang terakhir kali Auri lihat. Gadis ini merapikan pakaiannya sejenak sebelum beranjak duduk lagi di sofa. Menyeruput teh yang lagaknya sudah dingin sejak lama.
"Aku pulang yaa." Badannya kali ini bangkit dan mendapat perhatian dari Hyeon Jae. "Sebentar lagi jam pulang sekolah."
"Hati-hati!"
Auri menaikkan sebelah alisnya, ternyata Hyeon Jae memang bukan spesies cowok biasa. Cowok yang dekat dengan Auri sebeleum ini, akan berinisiatif mengantarkan ketika Auri bilang ingin pulang. Oke, memang Hyeon Jae berbeda. Lagian tangan lelaki itu terluka meski jika diingat, ketika pulang dari mall menuju apartement, ia tak kesusahan menyetir mobil.
Gadis itu beranjak pergi kemudian, tapi terhenti ketika tiba-tiba dering telpon di saku blazernya terdengar. Auristella yang sudah menggenggam handle pintu jadi urung membuka saat melihat nama Reksa di sana. Ia lupa satu hal. Pulang sekolah juga bermakna kalau Reksa dan Hillaeri akan bisa menggunakan handphone untuk menerornya.
"Siapa?" suara di balik tubuhnya membuat gadis ini menoleh. Hyeon Jae sedang menatapnya lekat dari posisi yang belum berubah.
Auristella membuang muka. "Kepo!" lalu keluar rumah setelah berpamitan sekali lagi. Tepat ketika ia baru menutup pintu, dering yang tadinya sudah berhenti kembali bergetar. Terpaksa sudah ia menggeser tombol hijau sebelum malah tak bisa memesan ojek online karena gangguan panggilan ini.
"Dimana?"
"Keluar"
"Sama siapa?" jeda beberapa saat. "Jang Hyeon Jae?"
"Hmm"
"Kau bolos demi pacarmu itu? Bahkan selama kita sekolah bersama dari sd kau tidak pernah senekat ini."
Auristella menghela napas berat. Ini yang membuatnya jadi memilih Jang Hyeon Jae jadi pacar bukan menawarkan bantuan berhadiah dengan menjadi pengawal atau sejenisnya. Dengan berpacaran dengan musuh bebuyutan Reksa, sahabatnya itu setidaknya bisa tidak dekat-dekat dengan Auristella lagi. Lelaki itu juga butuh untuk melindungi nyawanya sendiri dengan tidak dekat-dekat dengan sang sahabat.
Auri bahkan tak bisa jujur tentang dirinya yang reinkarnasi mematikan ini, karena Reksa malah akan mempertaruhkan nyawa hanya untuk melindunginya.
"Ada masalah darurat, Reksa"
"Apa? Sebutkan!"
"Apa semua tentangku harus kamu tau? Aku juga punya privasiku sendiri kan?"
"Tapi bukan berarti bohong tentang pacarmu kan, Au? Berapa lama sih kita kenal? Bandingkan dengan berapa lama kamu mengenal Hyeon Jae sebelum berpacaran? Secinta-cintanya kamu dengan hubungan sialanmu itu, ini tidak akan pernah sebanding dengan pertemanan kita kan?"
Gadis ini bersandar di daun pintu sambil terus melanjutkan bercakap. "Kamu mengumpat di depanku?"