~selamat membaca :)~
.
..
...
Hillaeri sudah bersedekap dengan wajah garang saat membukakan pintu asrama. Niat hati ingin menghadang malah terpaku dengan mata penuh sembab milik sang sahabat. Apa mereka sungguhan putus? Ini aku harus sedih atau gimana?
Auristella langsung masuk tanpa menghiraukan sang sahabat yang berdiri dengan wajah bingungnya. Ia duduk sendu di atas ranjang miliknya sendiri. "Apa kau –."
"Aku sedang tidak mood, Hil"
Please.
Auristella tidak kuat untuk memulai berakting tentang Hyeon Jae untuk sekarang. Otaknya penuh dengan segala macam hal. Dan itu benar-benar menyiksa hingga tangisnya kembali meluncur tanpa diminta. Ia bukannya egois dengan meminta pemutusan keluarga, tapi hanya itu yang terbaik sekarang.
Ia, Auristella Lesham. Adalah reinkanasi dari makhluk exhuman bernama Veronica, seorang putri mahkota di sebuah kerajaan yang tempatnya sangat jauh dengan posisi bumi sekarang. Dalam arti lain, mungkin dia bisa disebut sebagai alien. Dan itu mengartikan kalau keluarga, teman, bahkan hal sekitar di kehidupannya selama ini, bukanlah miliknya secara harfiah. Beberapa orang seperti kakak dan reksa, mungkin satu spesies dengannya. Tapi itu malah akan memperburuk keadaan. Jika dia kembali ke tempat asal, sejarah kehidupan Auristella akan dijelajahi dan para exhuman yang satu jenis dengannya akan menjadi tersangka atas penyembunyian Putri Mahkota kerajaan. Mereka bisa dihukum mati.
Kalau disuruh memilih antara kehidupan dunianya sekarang atau menjadi Putri Mahkota, ia bahkan bisa langsung menyuarakan dengan lantang kalau di bumi lebih nyaman. Ia bahkan tak tau menau tentang dunia yang kata my cat sangat maju itu. Tapi tubuh rapuh miliknya tak mengijinkan Auristella untuk memilih. Dia tidak bisa bertahan di bumi. Dan apa yang harus ia lakukan saat keselamatan orang-orang yang paling ia sayang bisa terkorbankan begitu saja?
Tangisnya makin menjadi saat Hillaeri duduk di samping dan menyediakan bahu untuk bersandar. Pelukan hangatnya membuat Auristella merasa nyaman dan makin membenci kondisi tubuhnya sekarang. Kenapa ia tidak terlahir sebagai manusia normal. Kenapa takdirnya harus semengerikan ini?
"Tenang, Au. Cowok baik, tampan, dan tajir masih banyak di dunia ini" Hillaeri berucap sambil mengusap punggung sahabatnya lembut.
"Aku tidak putus, Hil"
Sahabatnya ini hanya makin banyak mengelus pelan punggung Auristella. Seberapa cintanya sih dia, sampai sefrustasi ini saat putus?
"Sudah kubilang aku tidak putus" namun tangisnya makin kencang selepas mengucapkan kalimat itu. Ia bahkan terpukul kenapa dengan gen anehnya ini, ia harus bisa membaca isi hati orang?