Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #9

008˚ 01ʼ 7,13ˮ - Tato Gajah

~selamat membaca:)~


Hal paling menyebalkan setelah ujian adalah upacara. Berdiri lama di bawah sinar matahari mendengarkan ceramah pembina yang membosankan. Apalagi hari ini Auri dan Hillaeri sama-sama telat jadi entah ada di barisan milik siapa mereka berdiri. Ketika bel berbunyi, keduanya sama-sama lari cepat dari kelas dan masuk barisan asing tepat sebelum anggota OSIS berpatroli.

Sebenarnya Auri bukannya telat. Dia pagi-pagi sekali sudah meletakkan tas di meja kelas dan pergi ke area parkiran untuk menemui sang pacar. Bukan kabur lagi, tapi Hyeon Jae ada jadwal rapat masalah pertandingan international yang lalu. Sepertinya tentang reward dan segala apresiasi yang akan diberikan negara kepadanya karena masalah pentingnya, Hyeon Jae dan kawan-kawan tim bukanlah Warga Negara Indonesia dan tinggal di sini hanya karena visa belajarnya. Ia juga tidak paham kenapa sekolah mereka ditunjuk mewakili.

Jadi pagi-pagi tadi, Auri semacam melepas kepergian sang kekasih. Dia juga menyiapkan bekal berupa sebungkus sereal bar yang dibelinya tadi malam di kantin asrama. "Kamu sangat keliatan tidak niat." Komen pertama Hyeon Jae yang malas-malasan.

"Kan hanya ke gedung pemerintahan di pusat kota. Kamu tidak pergi jauh Hyeon Jae." Timpal Auri selepas tertawa. Untungnya, meski protes pacarnya ini memasukkan sereal bar ke dalam saku blazer. "Oh ya. Pulang jam berapa?"

"Memang kenapa?"

Auristella berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke telinga sang lelaki di hadapan meski masih ada jarak yang lumayan antara dua spot itu. "Formalitas aja. Biar terlihat romantis." Hyeon Jae pun mengerling malas.

"Mungkin siang."

"Lama sekali." Tentu saja kalimat ini drama karena bahkan selama ujian, mereka hanya beberapa kali bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama. Tidak ada acara ketemuan karena kangen. "Jangan liat cewek lain loh yaa!" gadis ini meraih lengan sang pacar. Memutar-mutar bulpen yang memang dipegangnya dari tadi hingga terbentuk gambar gajah kecil di sana.

"Memangnya ada siapa di Balai Kota?"

Hyeon Jae menarik tangannya dan berdecak kesal. Auri hanya terkekeh senang. "Ya kan semua kemungkinan bisa terjadi."

"Auri! Ini permanen." Tunjuknya pada gambar gajah kecil di lengannya. Memang bukan gambar jelek tapi tak enak dilihat mata.

"Nggak papa, itu jimat supaya nggak digoda cewek lain. Pulang nanti aku hapusin."

Sebuah tepukan di bahunya membuat gadis ini tersadar sejenak dari lamunan. Kepalanya menoleh pada Hillaeri. "Kayaknya namamu bakal disebut deh nanti."

"Kenapa emang?" dia menjawab dengan bisikan juga. Buyar sudah bayangan tentang pertemuan paginya tadi dengan sang kekasih.

"Habis ini ada pengumuman poin-poin pelanggaran. Kau kan beberapa kali bolos."

Lihat selengkapnya